Pudarnya Pesona Gadjah Mada *benarkah??
Bagi kalian yang pernah membaca novel Pudarnya pesona Cleopatra yang ditulis oleh habibburrahman El Shirazy, pasti akan berekspektasi tulisan ini akan bercerita dengan cara yang sama dengan dengan novel kang abik itu.
Jawabannya mungkin ya di satu sisi, namun juga tidak, di sisi yang yang satunya. Ya untuk pelajaran mengenai measurement, alat ukur yang harus kita pakai untuk memandang segala sesuatu dalam hidup. Namun sekaligus juga tidak di sisi yang lainnya, pada bagian bahwa kesadaran dan penyesalan itu datang pada akhir cerita, akan saya bangun kesadaran itu saat ini, mulai dari sekarang agar nanti di akhirnya tidak ada yang perlu disesalkan.
Tulisan ini hanya akan sedikit mengingatkan bahwa ternyata sudah sepuluh bulan saya berada di kota yang baru ini, kota Atlas, Semarang. Sepuluh bulan yang kadang terasa lama namun juga sekaligus kadang terasa begitu cepat. Yah, memang kadang alat ukur waktu kita jadi relatif, tergantung bagaimana situasinya. Sepuluh bulan yang cepat saat melihat anak-anak tumbuh dan berkembang dengan segala macam progress mereka, akhlak-nya, hafalannya, shalatnya, asmaul husna-nya, senamnya, lukisnya, renangnya, musiknya dan perkembangan perkembangan lainnya. Namun juga sekaligus sangat lambat saat harus menanti datangnya hari jum’at sedang saat itu masih hari senin.
Semarang memang begitu eksotis dengan gedung-gedung tinggi-nya, dengan simpang lima yang legendaris, lawang sewu yang mistis, serta Tugu Muda yang penuh historis. Mereka dihadirkan padaku untuk menggantikan malioboro, beringharjo dan benteng vrederburg yang enam tahun lalu, lebih dahulu kukenal.
Pun saat “Sang Pangeran berkuda” datang menyapa dengan segala kecerdasan yang sama, pengetahuan yang sama bahkan dengan kearifan dan kedewasaan yang jauh melebihi usianya. Namun rupanyanya kerinduan pada lembaran-lembaran usang milik “Sang Patih” di sudut khayangan masih belum sirna sempurna. Masih tersimpan bara di ujung asa ini untuk bisa kembali berjumpa dengan mereka di sepinya keramaian kayangan oleh manusia-manusia yang haus ilmu pengetahuan.
Kurasa pesona sang patih belum sepenuhnya pudar. Masih ada keping-keping harapan untuk bisa kembali berguru padanya, kembali mereguk segarnya mata air ilmu pengetahuan darinya. Namun sekarang masih mencukupkan diri mengagumi pesonanya dari kejauhan. Sambil memendam bara yg suatu saat bisa kembali bisa mendapat siraman bahan bakar agar semakin berkobar, bara kerinduan pada ilmu pengetahuan “sang patih”.
Namun sekarang, masih ada cita yang harus diperjuangkan di sini. Masih ada rizki yang harus dijemput di sini. Masih ada senyum yang harus terus dirangkai di sini, di “rumah” ini.
demi cinta ku pergi
tinggalkanmu relakanmu
untuk cinta tak pernah
ku sesali saat ini
ku alami ku lewati
suatu saat ku kan kembali
sungguh sebelum aku mati
dalam mihrab cinta ku berdoa semoga
suatu hari kau kan mengerti
siapa yang paling mencintai
dalam mihrab cinta ku berdoa padaNya
karena cinta ku ikhlaskan
segalanya kepadanya
untuk cinta tak pernah
ku sesali saat ini
ku alami ku lewati
(Dalam Mihrab Cinta-Afgan)

hm… mungkin memang pudar. tapi kuda dari Undip mustinya dibawa ke jogja sekalian biar kedua pahlawan beda zaman itu bisa berkolaborasi… atau ketemu di salatiga?
di semarang ya mbak?? mampir Pati ya.. jadi kapan2 kita bisa ketemu dunk ya?? ^^
huhuy…Undip mbak??
@laut
kalo kuda, di alun2 magelang juga ada….
@retnotirtoarum
huaaa…..jauh ya mbak…. hampir setahun di sini belum pernah pergi2 sampai pati.
@puchsukahujan
undip durung nduwe MAPRO psikologi
sudah pudar ya?belum lg aku keluar dr gadjah mada ini yul…