Life Never Ask You What You Want
Ahad sore ini seperti biasa, saya menunggu bus Patas Jogja-Semarang langganan saya, menunggu di sebuah agen perjalanan. Namun ada yang menarik sore ini, di tengah kebosanan saya menunggu bus yang terlambat karena macet di mana-mana, saya disuguhkan sebuah drama realita keluarga, yang sungguh sangat sederhana, jujur namun begitu membukakan mata saya tentang sebuah kemungkinan cara hidup yang tidak normal, namun juga tidak salah.
Dimulai dari kedatangan 4 orang yang nampaknya adalah sebuah keluarga, ada ayah, ibu dan dua orang anak yang berusia kira-kira 10 dan 5 tahun. Hanya sang ayah yang terlihat rapi, sedang sang ibu dan dua anaknya memakai pakaian rumahan biasa saja, tidak nampak ketiganya akan melakukan perjalanan jauh. Dan benar saja, dari percakapan mereka saya bisa menyimpulkan bahwa sang ayah adalah tipe Ayah PJKA, Pulang Jum’at Kembali Ahad.
Hampir 20 menit mereka menunggu bus, dan saat bus yang ditunggu sang ayah datang, maka adegan mengharukan tanpa rekayasa itu pun terjadi, sang ayah menciumi kedua buah hatinya seolah tidak ingin perpisahan itu terjadi, dan saat giliran pamit pada istrinya, wanita itu mencium tangannya lalu memeluknya erat. Seandainya saya diberi kesempatan untuk memberikan backsound untuk adegan ini, maka saya akan menyanyikan OST Armagedon ini :
So kiss me and smile for me..
Tell me that you’ll wait for me..
Hold me like you’ll never let me go..
Cause I’m living on a jetplane..
Don’t know when I’ll be back again..
Oh babe… I hate to go…
Ah… tidak… saya hanya menyenandungkan lagu itu dalam hati sambil agak berkaca-kaca. Inilah kenyataan hidup, satu pelajaran hidup saya dapatkan sore ini. Tentang sebuah fenomena rumah tangga jarak jauh, Long Distance Relationship kalo bahasa kerennya anak jaman sekarang. setiap keluarga pasti menginginkan setiap anggotanya berkumpul, tak ada satupun yang terpisah. Menginginkan keluarga yang sempurna, ayah berangkat ke kantor setiap pagi dan pulang di sore harinya.
But life never ask you what you want, hidup tidak pernah menanyaimu tentang apa yang kamu inginkan. Kenyataannya adalah bahwa kantor si ayah ada di luar kota, luar, provinsi atau bahkan luar pulau. Ayah hanya akan pulang di hari jum’at malam lalu pergi bekerja lagi di hari ahad dan baru jum’at pekan depan atau bulan depan akan pulang lagi, sementara untuk pindah rumah mengikuti tugas ayah juga tidak mungkin, karena mungkin si ibu masih terikat kontrak sekian bulan atau sekian tahun di tempatnya bekerja.
Maka, jika jalan ini memang yang harus ditempuh, maka jalani saja. Lalu lihatlah ruang tunggu bandara, stasiun, agen-agen perjalanan akan menjelma menjadi penuh bunga bagi anak-anak itu, bunga harapan menanti ayah mereka keluar dari kereta, bus atau pesawat di hari Jum’at. Juga bunga harapan agar ayah mereka pulang lagi di pekan depan meskipun mereka baru saja melepas ayahnya pergi di hari Ahad sore itu.
Inilah wajah kehidupan yang lain, yang sebelumnya tidak terpikirkan ada oleh saya, yang Salim A. Fillah menggambarkannya dengan kalimat “saat amanah menggariskan jarak”. Ternyata hal tersebut banyak terjadi di sekitar kita. Dan nampaknya mereka menjalani dengan baik-baik saja, menikmati ritme dan bersiap untuk kejutan dariNya.
How about you?
Semarang, 24 April 2011
-hampir tengah malam-

“Maka, jika jalan ini memang yang harus ditempuh, maka jalani saja..” =)
inspiratif skali mba nia. mari kita belajar dari kehidupan. so, kita akan tahun peran kita dalam hidup.nuwun.
@tiara
hehehe…. bahasanya belibet ya tir???
@wahyu ndeso
cuma sedikit cerita dari sejumput sore…
cie.. mellow, bo’..
assalamu’alaikum….
wah sebuah keluarga yang sangat harmonis sekali…
ingin rasa aku kelak memiliki keluarga seperti itu..
orang sycologi emang wajib metal ya
hahahaha…
LDR mode on nih kayaknya…
dan tiga huruf itu sungguh sangat, hffuih……..
suka! *sori ya jenk, baru ‘mampi’ langsung ngacak2!hahahaha..*
jadi kangen papa… yang hampir satu tahun terakhir punya ritme yang sama…