pesen semarang satu porsi nggak pake kuah…

Seandainya semarang adalah semangkok mie ayam, kita mungkin bisa pesan semarang goreng yang tanpa kuah. Cukup mie, sayur dan ayam tanpa air.Tapi menu semarang tak sekomplit warung mie ayam di mana kita bisa memilih pake kuah atau tidak.

part of service excellent

Seperti hari itu, di hari pahlawan, 10 november 2010, saya kembali berkoalisi dengan bi nisa’ untuk menyelesaikan home visit kami yang selalu dapat rute yang ekstrem (mungkin memang sudah takdir kami). Rute perjalanan kali ini adalah rumah syahrul, syafina dan kakak beradik irfan-indri.

Rumah syahrul sih ndak masalah, hanya seratus meter dari sekolah juara, itupun hampir setiap hari kami lewati, hmmm… yang membuat kami miris adalah rumah papan kayu kecil itu mojok di antara deretan perumahan mewah berpagar tinggi. Yang saya pikirkan saat itu adalah “kenalkah orang-orang di rumah berpagar tinggi itu dengan keluarga syahrul??

Perjalanan dilanjutkan ke rumah syafina, masih belum ekstrem  sih, hanya saja kami berkali-kali komentar mengenai air kali di sana yang permukaannya hampir sejajar dengan jalan yang ada di sampingnya. “gak hujan aja kaya gini bu, gimana kalau hujan deres” begitu komentar bu nisa’.

Tak kami duga bahwa medan yang menanti kami di depan sungguh mantapz.. lebih dahsyat dari ninja hatori kebonrejo. Rumah-rumah yang kami lewati banyak yang tergenang air sampai ke dalam. Berkali-kali kami hanya bisa terpana dengan keadaan tersebut, karena sebagai ”wong asli nggunung” (saya magelang dan bu nisa wonogiri) Alhamdulillah belum pernah merasakan yang namanya BANJIR.

Sampailah di sebuah gang, jl condrorejo muktiharjo kidul, kami tengak tengok untuk mencari RW XI, tapi.. ow..ow.. air menggenangi jalan yang membawa kami menuju RW XI. Kami ambil jalan memutar menuju sana. Setelah tiga kali bertanya, sepertinya hari itu memang sudah tertulis di garis hidup kami bahwa kami harus menerjang banjir ini (sedikit diberi efek dramatisisasi). Karena semua akses jalan menuju RW XI tergenang air setinggi mata kaki hingga sebetis.

Tak apalah… demi service excellent pada anak-anak juara kami. Banjir ini kami terjang. (banjir air sih belum seberapa dibanding banjir lahar dingin merapi.). perjuangan kami tidaklah sia-sia, kami sampai di rumah pak mujiono, ayah irfan dan indri. Sepertinya iklan salah satu teh botol sudah dipahami betul oleh bu mujiono, ibunya irfan dan indri “apapun makanannya, pake kuah atau tidak, minumnya teh botol s**ro”. Karena begitu kami sampai langsung disuguhi minuman tersebut.

Rumah irfan-indri tinggal satu petak berukuran 5×4 m yang selamat dari banjir. Bagian belakang dan samping rumahnya semua terendam air setinggi mata kaki. “sudah biasa bu di sini, ini mending sudah ditinggikan, kalo dulu ya kebanjiran semua” begitu penuturan ibu irfan-indri tentang rumahnya yang kebanjiran.

Sepertinya warga sekitar rumah irfan memang sudah berdamai dengan banjir langganan itu. Karena memang kadang mereka tidak bisa memilih, tidak sesederhana memesan semangkok mie ayam, bisa memilih pakai kuah atau tidak.  Jika menunya semarang goreng yang panas maka itu yang harus dipilih, begitu juga jika semarang sedang berkuah, dinikmati sebagai satu pergiliran musim.

*)bu nisa, kita masih harus ke rumah nusaibah di johar, sekalian belanja aja yuk!!

speedy baru di kantor RJ semarang

alhamdulillah…. 1 ramadhan menjadi moment penting bagi Rumah Juara semarang.

setelah sekian lama menggunakan modem wireless yang sinyalnya hidup segan mati tak mau, akhirnya diresmikan instalasi speedy di kantor kami… huhuhu… jadi terharu…

semoga menambah kelancaran komunikasi, baik vertikal maupun horizontal. yang  jelas, akan meringankan pekerjaan Bu Dewi, karena mulai sekarang, insya Allah kami akan presensi online dengan tertib…. ndak ada lagi alasan “koneksi terbatas”  kalo telat,, hehehe…

semoga semakin menguatkan langkah menuju World Class Socio-Religious NGO

inspirasi dari Jayagiri (bukan melati)

bandung adalah salah satu kota yang belum pernah saya kunjungi, maka kesempatan yang diberikan oleh pak kepsek cukup membuat kaget, tapi bener bener deh… satu kesempatan yang sayang kalo dilewatkan…

maka singkatnya, selasa malam tanggal 25 mei 2010, dimulailah perjalanan ke barat mecari kitab suci LSU SD juara (alias minta file2 penting ke-LSU-an dari SD juara lain yang sudah settle)

stasiun tawang…

butuh perjuangan untuk sampai sana, karena banjir rob langganan daerah tawang sedang melanda, walaupun katanya nggak terlalu parah, cari jalan alternatif, sampailah di depan plang bertulisakan “SETASIUN BESAR SEMARANG TAWANG”. benar2 mengingatkan pada perjalanan tasikmalaya akhir tahun lalu, bedanya kalo dulu berangkat dari lempuyangan jogja, kali ini dari semarang tawang. sesuai jadwal, pukul 20.30 keretanya berangkat.. jes jes jes…..

stasiun bandung

jam 5 pagi sampai, langsung disambut dengan logat sunda, tapi masih kental wkt di tasik sih… pak trisno cari taksi, saya sama mb wahyu ngikut aja, karena gak tahu jalan di bandung

jalan martanegara, kantor pusat Rumah Juara Indonesia

ternyata kami adalah kontingen paling awal yang datang, menyusul kemudian kontingen jogja lalu surabaya. bersih bersih, sarapan dan ngumpul buat pemberangkatan… ternyata kontingen dari padang, medan, pekanbaru, banjarmasin, aceh, makasar sudah tiba di bandung hari sebelumnya dan menginap di mess yang disediakan panitia…

masuklah kami ke angkot jurusan KALAPA-CAHEUM yang udah disewa ma panitia, perjalanan menuju jayagiri lembang yang cukup bikin mabok, mendaki gunung lewati lembah, pake acara nyasar pula samapai ciater.. jauh bgt katanya…

PP PNFI Jayagiri Lembang Bandung

yah di sinilah selama 3 hari dua malam para  peserta Rakornas Rumah Juara dari seluruh penjuru nusantara berkumpul untuk Merangkai Senyum Indonesia : satukan tekad dan langkah menuju pendidikan berkualitas

dingin banget tempatnya, mirip2 kaliurang lah… tapi masih lebih dingin segara gunung ngargoyoso karanganyar…

mungkin akan jadi satu artikel tersendiri kalo diceritakan semua yang terjai selama kami di sana… ya rakornas, ya agak2 mirip OJT bwt saya, ya silaturahim, ya rihlah, ya belanja-belanja…

bener2 gak nyangka bisa ketemu bu ratna dari aceh, bu idha dari palembang, bu hanifa laura dalimunthe dari medan, bu heni dari pekanbaru, bu adhes LSU jaktim, bu huda PKS kurikulum-nya surabaya, bu irna TUnya jaktim, teh Mala LSU cimahi, bu budi kepseknya jogja, bu emma LSU jaksel (yang ternyata temen SMA-nya mb mytha dan kakak kelasnya hasan… ah..dunia sempit…) pak solah LSU jakpus, pak hari jum’at LSU SMP bandung, pak ridwan LSU jogja dan banyak orang lagi yang benar menginspirasi akan dibawa kemana LSU SD juara semarang…

pulang….

pulangnya dari lembang lewat jalan yang berbeda.. lewat Pusat Pendidikan Ajudan Jenderal (pusdikajen… baru tahu, gak cuma jenderalnya aja yang punya sekolah, ajudannya kudu dilatih juga ternyata.. hehe). cari jalan lewat Dago untuk menghindari kemacetan sebagai efek long weekend.. tapi ternyata sama aja.. ramai.. hmmm tapi jadi bisa tahu sisi lain dari bandung, gak lewat jalan yang sama… lewat lapangan gazibu dan sempet ngeliat gedung sate yang tersohor itu (hahaha.. malu maluin pokoknya, teriak heboh waktu ngeliat gedung itu)..

sampai lagi di kantor pusat RJI, bersih-bersih, kenalan sama mb wiwid yang tadinya dikira orang sunda tapi ternyata dia adalah orang tuban… hahaha… akhirnya obrolan mengalir dengan bahasa jawa.

balik ke semarang pake travel dan dari semarang langsung bertolak ke jogja.. gak efektif sih.. tapi ini pilihan yang terbaik…

SALAM JUARA!!!!!!!!

-yulifia-

pojok kanan alfath, singgah semalam di jogja, setelah mendengar kabar bahagia… my best friend’s wedding…