open up your heart and let the sunshine in

Mommy told me something
a little kid should know.
It’s all about the devil
and I’ve learned to hate him so.
She said he causes trouble
when you let him in the room.
He will never ever leave you
if your heart is filled with gloom.

So let the sun shine in
face it with a grin.
Smilers never lose
and frowners never win.
So let the sun shine in
face it with a grin
Open up your heart and let the sun shine in.

When you are unhappy,
the devil wears a grin
But oh, he starts to running
when the light comes pouring in
I know he’ll be unhappy
‘Cause I’ll never wear a frown
Maybe if we keep on smiling
He’ll get tired of hanging ’round.

If I forget to say my prayers
the devil wears a grin.
But he feels so awful awful
when he sees me on my knees
So if you’re full of trouble
and you never seem to win,
Just open up your heart and let the sun shine in.

So let the sun shine in
face it with a grin.
Smilers never lose
and frowners never win.
So let the sun shine in
face it with a grin
Open up your heart and let the sun shine in.

 

awalnya biasa aja denger lagu ini, tapi sekarang jadi suka sekali dengan lagu ini… gara2 setiap hari disetel di kompie-nya pak jek…

lagu yg ringan, ceria, tapi bermakna dalam….

bukan tersenyum karena kau bahagia, tapi kau bahagia karena kau tersenyum…

“tabassummuka fi wajhi akhika shadaqah, senyum di hadapan saudaramu itu adalah shadaqah…”

whatever will be will be

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here’s what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future’s not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

dst…..

(que sera sera, doris day)

sedang teringat dengan lagu lawas ini… seperti menemukan kepingan puzzle yang akan melengkapi konklusi hidup… seperti dibangunkan.. tentang “ending” proyek hidup kita…kadang proyek hidup yang nampak tidak realistis ujungnya, akal kita tidak akan dapat melogikanya…

yah, dan lagu ini tiba-tiba muncul dari memori lawas saya,  mengingatkan, bahwa masa depan tidak untuk kita lihat, tapi untuk kita usahakan…
karena bagi Allah, tidak ada yang tidak mungkin…

-road to 261210-

Salatiga, Qaryah Thayyibah dan Habiburahman el Shirazy

What an amazing weekend…

Bermula dari program rutin bulanan upgrading SDM SD juara semarang dan akhir juli ini kami merencanakan berkunjung ke komunitas belajar Qaryah Thayyibah Salatiga. Dan akhirnya masuk ke dalam kelompok kepenulisan, bersama dua orang penulis mda, Maia Rosyida dan Fina Af’idatussofa. Penulis yang usianya lebih muda, tapi karyanya sungguh mengagumkan. Buku kumpulan puisi, cerpen, novel, novelette, teenlit telah lahir dari tangan-tangan mereka. Ah… jadi malu sendiri, blog ini sudah lama sekali tidak update. Maka pertemuan dengan mereka menggerakkan jari ini untuk bisa menulis lagi, paling tidak menulis catatan perjalanan kali ini.

Di hari kedua, Maia dan Fina tiba-tiba saja tidak bisa hadir karena ada agenda. Dan seperti kebiasaan pak BM yang sudah kami hafal, spontan, fleksibel dan kadang terkesan unplanned, tiba-tiba saja pak BM memberikan sebuah tawaran menarik “yang kelompok menulis, kita silaturahim ke rumah Kang Abik (habiburahman el shirazy.red) yok!!

Dan tanpa membantah (bukan karena takut dapat SP loh..hehehe…) kami meng-iyakan tawaran menarik pak BM itu. Dan tanpa panjang lebar tinggi, kami nekat silaturahim ke rumah kang abik. Padahal tidak ada janjian lebh dahulu. Pikir kami, kalopun gak ketemu kang abik gapapa deh ketemu istri atau keluarganya.

Sampailah kami pada sebuah rumah sederhana itu. Rumah yang terimaji dalam otak kami adalah rumah megah mewah dengan pagar tinggi dan mobil berjejer, bukankan wajar pikiran kami tersebut? karena dua film yang diangkat dari novel beliau booming, sinetronnya dapat rating 19 juta penonton, bukunya best seller, penghargaan kepenulisan menjadi langganan beliau. Tapi imaji itu terhapus, runtuh seketika saat kami memarkir motor di depan sebuah rumah dengan plang Pos WK di depannya. Sebuah rumah yang sederhana, ala pedesaan Salatiga yang kami masuki begitu hangat dan akrab. Kemudian istri beliau menyajikan teh hangat dan manis serta sepiring gorengan yang sungguh lezat.

Sebenarnya, kami sudah mengganggu istirahat beliau yang baru tiba dari Jakarta sabtu malam dan harus kembali lagi ke sana pada ahad malamnya. Tapi beliau dengan bersemangat berbagi ilmu dengan kami, tentang dunia yang sedang beliau geluti, tentang apa pentingnya da’wah melalui media sinetron untuk perluasan da’wah,

“coba antum bayangkan, rating sinetron ini hingga 19 juta, itu berarti, 19 juta juga orang yang telah kita da’wahi. Kalau saja rating kuliah subuh bisa sampai setinggi itu pasti banyak juga yang akan beriklan di sana” kata beliau

Ingin membuat sajian yang sehat bagi masyarakat dengan tetap mengakomodasi berbagai kepentingan. Memfasilitasi berbagai kepentingan , dua kemauan, dan dua kubu yang berbeda. Bagaimana membuat tayangan yang bermutu, menginspirasi, dan bisa menjadi sarana da’wah namun juga tetap mudah dicerna, disukai semua lapisan masyarakat. Bagaimana membuat berada dalam posisi moderat, tetap memperhatikan adab-adab syar’i, namun juga agar tetap enak dilihat oleh penonton. Moderat juga dari penilaian sinematografi dan keinginan pasar. Mengakomodasi penilaian kritikus film namun juga bagaimana ibu-ibu rumah tangga tetap dapat menikmatinya.

Salatiga, 1 Agustus 2010

S.E.M.A.R.A.N.G

pekan yang cukup crowded…  bahkan untuk sekedar menuliskannya di sini.

bisa dibayangkan.. dalam waktu tak lebih dari sepuluh hari terhitung delapan kali saya melewati gerbang pesantrennya Syeh Puji di Bedono. ya empat kali perjalanan PP magelang semarang…

semarang… kota yang sebelumnya tidak pernah ada dalam kamus hidup saya selain sebuah kunjungan singkat tak lebih dari tiga hari… kini dan selanjutnya akan menjadi rumah saya. masih belum terbiasa dengan panasnya, dengan jalan-jalannya, dengan jalur bisnya… tapi harus segera terbiasa… atau tepatnya membiasakan diri….

semarang… semarang… semarang… tidak lagi jogja ataw magelang, menjadi penjelajahan berikutnya, menyusul tasikmalaya, madiun, karanganyar, lawu dan solo….

(sedang menunggu hari selasa,,, untuk penjelajahan selanjutnya ke Jayagiri Lembang Bandung…. )

pasca pencabutan segala fasilitas

kupikir dulu setelah lulus bisa lebih banyak nulis dan nulis lagi di sini, karena gak harus terbeban dengan jurnal-jurnal, textbook, revisian, barisan angka-angka data penelitian.

ah, tapi ternyata tak seindah bayangan. bahkan sebelum beres yudisium, sms itu masuk ke inbox “komputere isih dienggo po ra? adhine selak butuh laptop-e”. lah apa hubungannya ma aku, kan dari dulu pake komputer meja yg monitornya udah berumur 10 tahun??. tapi,  ooohhh…. ternyata maksudnya, laptop yang ada di rumah mau dipake neni, padahal di rumah juga butuh teknologi itu. yowis, akhirnya diri ini harus mengikhlaskan.

setelah motor supra fit AA 5092 JB harus berpindah hak penggunaannya ke adhekku, sekarang giliran komputer itu…yup…indahnya jadi anak mbarep

dan kemudian efeknya adalah…

1.  akan jarang menemukanku online lagi, apalagi  malam… dan jangan harap sms berbunyi “mbak nia, tlg di-email-kan ke saya sekarang!” akan bisa direspon dengan segera.

2. blog ini akan semakin jarang di-update, bahkan sekedar “leave a comment”

3. akan semakin jarang berkunjung ke “rumah” kalian lagi.

dan yang berikutnya, kalo ini sih bukan efek, tapi harapan..

4. harapannya jadi lebih solihah dengan mengurangi intensitas online… hehehe… (jd ingat kata ust. syatori “internet itu sampah, yang lebih banyak sia-sia-nya, meskipun di dalam sampah itu ada mutiaranya, tapi kita tetap harus bekerja keras untuk mengais-ngais dan membersihkan mutiara itu agar nampak benar-benar mutiara”… hiii…  jd merinding)

5. jadi lebih hemat,  ndak perlu “makani”  modem yg ngabisin anggaran 100 ribu sebulannya, juga bayar listriknya jadi berkurang 10 ribu.

kapan ya bisa punya fasilitas lagi??? hmmmm….  ber-azzam ndak akan memintanya kembali.

(alhamdulillah hak penggunaan HP ndak dicabut, dia masih boleh menjadi milikku. biarpun HPnya gak bs dipake online, tp minimal bisa dipake sms atw telpon)

setelah gelap

hanya bisa melihatnya setelah gelap..

kampung yang sudah jadi rumahku sejak umur 2o bulan…

karena sekarang aku sudah masuk komunitas P4, pergi pagi pulang petang…

siangnya entah di mana aku… di kota pelajar, kota budaya.

tak ada seorang pun di kampung itu yang tau… tidak usah tahu lebih tepatnya..

karena aku tidak bisa bilang “afwan, saya ada syuro’ jam segitu” atau “saya liqo’nya sampai maghrib, jadi gak bisa kalo ba’da ashar” atau “waduh, saya ada asasi hari itu” atau… “saya ada spreading” atau bahasa2 lain yang menurut saya makin aneh saja…

hohoho… lalu aku pun selalu bilang, masih kuliah (padahal juga udah gak ada jadwal kuliah setelah jam3 sore), ke perpus (perpus aja tutup jam4), praktikum (mana ada anak semester 10 masih praktikum),

yasudahlah…

setelah gelap… mungkin memang itu jatahku bersama kampungku…

karena di sana tempat yg nyaman utk istirahat, utk berlibur… bersama jangkrik, kunang2, kodok, burung hantu, gelapnya sungai di sebelah kuburan.

HEI… tapi jangan lama2 istirahat n berliburnya… karena sebelum gelap itu berakhir, kau sudah harus bersiap kembali memacu si Hitam.. menempuh 27 kilometer.. melewati jembatan kali krasak… melewati 7 traffic light sampai di kawasan megah dan sibuk berjuluk Universitas Gadjah Mada…

_terima kasih kepada the blackfit untuk kesetiannya selama 1,5 tahum_