Setiap Penghujung Liburan Semester

Setiap Penghujung Liburan Semester

Waktunya sama, situasinya pun sama, tapi setiap keluarga punya cara berbeda untuk memaknainya…

Rumah Cahaya, hari sabtu di penghujung liburan semester,

Rumah itu tiba-tiba berubah menjadi begitu riweuh, berbagai macam makanan dimasak di dapur mereka, terutama jenis-jenis lauk awet, dendeng, kering kentang, abon, telur asin, ikan asin kering dan lainnya. Rupanya anak tertua mereka akan kembali lagi ke Yogyakarta setelah liburan dua pekannya di rumah, dan makanan-makanan itu akan dibekalkan si Bunda pada sulungnya yang akan memulai lagi perantauannya di kota pelajar itu.

“Bun, kok banyak banget sih masaknya, Kakak juga paling gak habis makan segitu banyak, lagian berat nanti bawanya” protes si kakak yang melihat begitu banyak bekal yang dimasak oleh bunda.

Bunda tersenyum “loh, kakak jangan mikirin diri sendiri, temen-temen kakak di asrama kan banyak, nanti dimakan bareng-bareng, lauknya juga awet kok, seminggu Insya Allah masih bagus”.

“baiklah Bunda, tapi nanti dianterin sampe kereta kan?” bujuk si Kakak.

“iya, nanti dianter deh… Nih tiket Kak, keretanya berangkat jam 7 malam nanti” Ayah yang baru pulang langsung ikut menjawab

Hingga sore itupun tiba, Ayah, Bunda dan ketiga anak mereka pergi ke stasiun untuk mengantar kakak sulung mereka melanjutkan perjuangannya menuju negeri ilmu pengetahuan di kaki gunung Merapi. Tak terhitung peluk dan cium dari seluruh anggota keluarga untuk si kakak, kebanggaan mereka. Segenap pesan, do’a dan salam kerinduan terselip di antara pelukan-pelukan erat itu, mengiringi langkah si Kakak memasuki ular bermesin yang kan membawanya.

Dari balik jendela kereta, tertangkap oleh mata si Kakak, gerimis yang menggantung di wajah bundanya, yang dia yakin telah bunda tahan sejak kakak menyampaikan bahwa liburan semester telah hampir habis “Bunda, kakak udah masuk kuliah senin besok, insya Allah balik ke jogja sabtu sore”. Dan saat sulungnya sudah tak di hadapan, maka gerimis itu nampak semakin deras membasahi wajah.

Bukan tanpa alasan bunda menyimpan gerimis itu hingga si sulung berangkat, karena Bunda tahu, gerimis itu cukup bisa membuat kakak memutuskan menunda keberangkatan, dan memperpanjang liburnya di rumah meski hanya sehari. dan perpanjangan itu justru semakin memperberat perpisahan yang ada.

“ah.. baiklah bunda… karena kau telah berusaha sekuat tenaga untuk membuatku lebih ringan dan nyaman saat harus meninggalkan rumah, maka aku pun harus semakin dewasa, karena jarak ini tidaklah selamanya, berharap masih ada umurku, untuk pulang di liburan semester mendatang”

Rumah Bintang, hari Jum’at di penghujung liburan semester…

“Mama mana mbak? Kok dari subuh adek nggak liat…” tanyaku di pagi itu pada mbak Isma, kakak keduaku yang belum menikah, sekaligus satu-satunya anak Papa dan Mama yang kesehariannya masih tinggal bersama. Kakak pertamaku sudah menikah dan telah memiliki dua anak, dia ikut suaminya bertugas di Palembang. Dan aku, bungsu di keluarga ini, hanya tiga kali setahun saja aku ada di rumah masing-masing tak pernah lebih dari tiga pekan, libur semester ganjil, semester genap serta saat lebaran.

“masih di kamar kok, lagi gak enak badan…  coba deh diliat, sekalian nih anterin sarapan Mama, katanya mau makan di kamar aja”.

Perasaanku tiba-tiba nggak enak “hhh… jangan lagi… pliss” batinku sembari membuka pintu kamar Mama.

“Mama kenapa?” pertanyaan retoris itu meluncur melihat mama yang rebahan di tempat tidurnya. Ya, seperti memutar kembali adegan yang rutin diulang sebanyak bilangan aku pulang.

Lalu seperti hafal naskah-nya, dialog antara ibu dan anak itupun terulang. “Nggak tahu nih, Mama tiba-tiba pusing dan berasa nggak enak badan, kayanya darah tinggi Mama kambuh deh.. Adek balik ke Jogja kapan?

“insya Allah Sabtu sore, Ma” jawabku senetral mungkin, berusaha seolah tak ada bedanya aku pergi atau tidak.

“Sabtu sore tuh besok ya? Cepet banget sih dek liburnya, perasaan baru kemaren Papa sama Mama jemput Adek di stasiun” kata Mama dengan ekspresi kaget yang nampak dipaksakan.

“udah hampir dua minggu loh adek di rumah. Besok senin malah udah masuk kuliah Ma”

“Adek seminggu lagi ya di rumah?” bujuk Mama seperti yang sudah kuhafal

“Tapi Ma…..”

Belum sempat kuselesaikan kalimatku, Mama memotong, “Adek nggak sayang ya sama Mama? Adek tega ngeliat Mama sakit gini? kalo nanti ada apa-apa sama Mama, gimana?”

Ah… Mama tahu betul titik kelemahanku, dan Mama menembak tepat di sana dengan kalimat andalannya. Dan Mama selalu tahu, aku tak pernah aku bisa membantah kalimat itu.

Untuk ke sekian kali SMS itu kukirimkan pada mas’ul-ku di Jogja, mengabarkan bahwa aku memperpanjang liburku di rumah, semoga mereka tidak bosan dengan alasan yang sama tiap semesternya

“Assalamu ‘alaikum, afwn, sy kmungkinan blk k jogja seminggu lagi, ibu sy mendadak sakit. minta tlg tugas2 sy di kepanitiaan daurah mhn di-handle dulu seminggu ke depan. Sy usahakan blk ke jogja lebih cepat. Jzk”

Rumah Pelangi, hari sabtu di penghujung liburan semester,

“pak, kula mbalik jogja ngenjing-enjing, senen pun mlebu kuliah”­1

“numpak apa kowe mangkate?”2

“mbonceng Lik Mar dugi terminal, trus nyambung bis Jogja”3

“gabahe panen wingi durung payu ki piye?? pak’e ra isa nyangoni nek kowe bali sesuk, njaluk sangu bu’e ya!”4

“nggih Pak..”

Ah, pak’e belum mengerti juga, ini bukan sekedar soal sangu dan naik apa aku sampai di jogja. kecuali untuk uang semesteran yang mencapai angka jutaan, untuk biaya sehari-hari sih insya Allah aku bisa mencukupi diriku sendiri. Tak adakah pesan-pesan sponsor yang kau bisikkan untukku, anaknya yang akan kembali ke jogja untuk menuntut ilmu, menyambung cita-cita seluruh penduduk kampung ini agar paling tidak salah satu dari warga kampung ini bertitel sarjana, cita-cita yang sungguh sederhana namun sarat harapan untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.

Tahukah kau pak’e, sedih rasanya aku, saat mahasiswa baru dulu, melihat kawan-kawan sekontrakan-ku diantar orang tua dan keluarganya saat akan pindahan kost. Sedangkan aku, berbekal nomer HP kakak kelas SMA, aku dicarikan kontrakan ini, sendiri tanpa kenal siapapun di sini, tapi alhamdulillah teman-teman dan mbak-mbak di sini sungguh baik, seperti saudara sendiri, sedikit melipur kesedihanku.

Apakah pak’e juga tahu? iri rasanya aku, mendengar teman-teman sekontrakanku asyik ngobrol dengan orang tuanya lewat telpon. Sekedar untuk menanyakan, sudah makan belum, sudah minum susu belum, gimana kuliahnya, atau sekedar berkabar bahwa mereka dapat nilai A di mata kuliah yang terkenal sulit. Sedangkan aku? Kalau aku tak berinisiatif menelpon Lik Mar untuk menyambungkannya padamu, pasti tak akan pernah ada cerita kau bertelpon denganku. Jangankan menelponku memegang pesawat HP saja kau takut. “rasah, pak’e ra isa le nganggo, malah rusak mengko..”5 begitu katamu saat kutawarkan untuk membelikan HP agar komunikasi kami lebih lancar.

Pak’e… aku tak habis pikir mendengar cerita teman-temanku yang langsung ditelpon dan dimarahi orang tuanya karena wajah mereka muncul di televisi saat ikut demonstrasi mahasiswa. Saat itu aku merasa beruntung kau jarang menonton televisi, namun kalaupun kau melihatku muncul di televisi, aku yakin kau tak akan marah, karena yang kau tahu, apapun yang kulakukan di sini adalah sesuatu yang baik. Ya.. Kau mempercayaiku. That’s all…

Sambil menenteng tas ransel besar, aku menemui Lik Mar yang sedang memanasi motornya di halaman. “wis siap nduk?” tanya Lik Mar padaku.

“sampun, tak pamit pak’e kalih bu’e riyin nggih?”6 jawabku, lalu aku kembali ke dalam rumah untuk menyalami dua orang yang telah membesarkanku itu. Hanya satu kalimat pendek yang mereka katakan “ngati-ati ya!”

Aku dan Lik Mar naik ke atas motor bersiap untuk berangkat, Pak’e dan Bu’e berdiri di pintu rumah melepasku pergi. Sedetik aku berharap ada adegan melodrama penuh peluk, cium dan kata-kata berbunga seperti yang sering diceritakan teman-temanku saat mereka akan kembali ke jogja. Tapi kemudian aku tersadar bukan orang tuaku kalau sampai mereka melakukan hal itu. Lagi-lagi satu kalimat pendek yang mereka ucapkan.

“kapan kowe bali meneh nduk?”7

Satu kalimat yang bagiku lebih dari cukup untuk melelehkan bening dari sudut mata ini, bahwa kepulanganku masih mereka harapkan. Dan itu cukup bagiku menjadi alasan selalu menanti-nanti saat pulang di liburan semester mendatang…

Based on true story, dengan sedikit improvisasi dialog….


  1. Pak, saya balik jogja besok pagi, senin udah masuk kuliah
  2. Naik apa berangkatnya?
  3. Bonceng Lik Mar sampai terminal, disambung bis ke jogja
  4. Gabah panen kemarin tuh belum laku gimana ya?? Kalo kamu pulang besok pagi bapak nggak bisa ngasih uang saku, minta sama ibu ya!!
  5. Nggak usah, bapak nggak bisa makai, nanti malah rusak.
  6. Sudah, saya pamit sama bapak dan ibu dulu ya?
  7. Kapan kamu pulang lagi nduk?

..dia memanggilku Ai..

Sebut saja namaku Ai, seperti pelafalan namaku dalam bahasa Inggris “eye”. Aku adalah sebuah alat optik tercanggih di muka bumi ini. Buatan-Nya Sang Maha Canggih juga. Aku diciptakanNya, dan akan diutus kepada salah satu hamba yang Dia sayangi, untuk menemaninya di sepanjang usianya, Insya Allah.

Medio mei 1986,

Inilah hari pertama aku bertugas, pada seorang anak manusia yang baru saja dilahirkan, seorang bayi perempuan cantik dengan segala fitrah yang melekat pada dirinya. “hey… selamat datang di dunia kawan” itulah yang kukatakan pertama kali padanya. Aku memberitahu bahwa ia ada di salah satu kamar serba putih bernama rumah sakit, walaupun aku sangsi apakah dia akan bisa mengingatnya kelak.

Tak berselang lama, aku mengenalkannya dengan sesosok perempuan dengan raut wajah kelelahan namun jelas sekali terpancar kebahagiaan saat ia pertama kali menggendongmu. “dia ibumu, ingat-ingat, dia-lah yang Allah pilihkan untuk merawatmu di dunia ini, yang rela menggadaikan nyawanya demi melihatmu hadir di dunia..”

Hari-hari berikutnya, satu persatu aku mengenalkanmu pada setiap anggota keluarga yang hadir untuk menyambutmu “itu ayahmu, itu kakakmu, itu eyang-mu, itu pamanmu, itu tante-mu, lalu beberapa tetangga dan kawan ayah-ibumu yang hadir untuk menjengukmu dan ibumu…

Kau dibawa ke suatu tempat yang untuk selanjutnya akan kau sebut “rumah”. Ramai sekali di sana, lebih banyak orang lagi yang menyambutmu daripada di rumah sakit. “inilah rumahmu, mulai sekarang kau akan tinggal di sini..”.

Kau mulai tumbuh, Kadangkala ku putus asa di hari-hari pertama-ku bertugas, karena kau hanya menjawab dengan diam atau tangis, entah apa kau memahami apa yang kuajarkan. Tapi ternyata waktu yang menjawab, bahwa kau merekam setiap apa yang kuajarkan. Mulai mengenali orang-orang di sekitarmu yang, kau tahu, sangat menyayangimu.

Lima tahun pertama aku menemanimu, aku terkagum-kagum padamu. Setiap yang kuajarkan dan kukenalkan padamu kau serap dengan baik. Dibantu ibumu, Aku mengajarimu tentang warna, “apel ini merah, daun itu hijau, pisang itu kuning…” dan kau cepat sekali menirukannya. Kaupun sekarang sudah dapat mengenali setiap anggota keluarga yang ada di rumah. Tapi pernah pula aku merasa bersalah padamu saat ku mengenalkanmu pada seorang kawan ayahmu yang berbrewok tebal dan kau menangis, kau takut, kata ibumu.

Saat ibumu membelikanmu alat-alat belajar huruf dan angka, aku pula yang membuatmu bisa membedakan mana yang disebut A, B, C dan seterusnya sampai Z. Juga tentang angka, kau bahkan bisa membilang satu hingga sepuluh sebelum aku mengenalkanmu tentang bagaimana bentuknya. Ya, Kau pembelajar yang cepat, kau tidak hanya belajar dariku. Kawan-kawanku, indera yang lain pun adalah sumber belajarmu. telinga, hidung, lidah dan kulit menceritakan padaku bahwa pelajaran yang mereka ajarkan kau terima dengan cepat, secepat kau mempelajari apa yang kuajarkan.

Lalu mulai saat kau dapat mengenal huruf dan angka, bukan aku lagi yang aktif mengajari dan mengenalkanmu pada banyak hal. Kini kau yang selalu mengajakku untuk menekuri setiap lembar-lembar kertas tersusun yang ayahmu bawakan sepulang dia bekerja. Kau selalu antusias, saat aku menangkap ada benda yang mereka disebut “buku” dikeluarkan ayahmu dari tas kerjanya, ya, selalu ada yang baru setiap pekannya, meski tidak benar-benar baru dibeli oleh ayahmu.

Bulan juli 1992,

Ini hari pertamamu masuk sekolah dasar, sepertinya mulai hari ini aku akan semakin sibuk, karena saat kau masuk ruangan yang disebut perpustakaan, kau melonjak girang karena ada lebih banyak buku daripada di rumahmu. Dan benar saja, mulai hari itu aku selalu menemanimu menjelajah dunia lewat buku-buku yang selalu kau baca. Dan selama 6 tahun berikutnya kau selalu mendapat peringkat satu di kelasmu, banyak kejuaraan kau menangkan dan banyak penghargaan kau peroleh.

Pertengahan tahun 1999,

Kau kini masuk SMP, di mana banyak orang bilang di sinilah masa remaja dimulai, masa pencarian jati diri, begitupun engkau. Kau mulai mengenal teman-teman lelakimu, dan lagi-lagi aku mengajarimu cara membedakan mana yang ganteng, mana yang biasa-biasa saja dan mana yang tidak ganteng, hihihi…. Kau mulai memilih mereka untuk kau kagumi, dan yah… kau mulai mengenal cinta, walaupun cinta monyet tentunya. Selalu tak bertahan lama cinta itu, karena memang tak ada gayung bersambut, kau selalu menyimpan saja kekaguman itu, terlalu malu untuk mengungkapkan dan selalu kekaguman itu mudah hilang tak berbekas ketika ada objek lain yang menurutmu “lebih indah”, dan kau berpaling padanya, begitu terjadi terus menerus.

Kau juga mulai mengenal apa itu mall, jum’at sepulang sekolah adalah waktu yang sering kau gunakan untuk pergi ke mall bareng teman-teman geng cewek-mu. Tak selalu membeli sesuatu, karena kau tahu uang sakumu tak seberapa banyak kalau mau belanja tiap pekannya, lagipula segala kebutuhanmu seringnya sudah disediakan oleh ibumu. Kau berdalih sekedar cuci mata. eits… kenapa aku dibawa-bawa? Aku tak pernah minta dicuci, lagian yang kau sebut mencuci itu bukan berbuat baik padaku tapi justru malah membuatku capek. Tapi sudahlah, aku akhirnya hanya bisa menuruti apa kemauanmu.

Tahun 2001,

Baju putih-abuabu kini jadi seragammu, yah kau sudah masuk SMA. Secara umum tak banyak yang berubah darimu, kecuali baju seragam yang kini panjang menutup, juga selembar kain putih menutup rambutmu. Kau memutuskan untuk memesan seragam panjang setelah kau lihat kakak-kakak kelasmu yang berjilbab begitu ramahnya membantumu saat kebingungan tentang prosedur daftar ulang SMA, “kayanya sejuk” katamu.

Sekarang jadwal mingguan jum’at siangmu berubah. Kini kau tidak pernah lagi mengajakku “cuci mata”. Hari jum’at selepas sekolah adalah waktumu bersama mbak-mbak yang dulu kau temui di saat daftar ulang. Ya, sekolahmu mewajibkanmu mengikuti pelajaran Agama di kelompok kecil setiap jum’at siang selama setahun. Kau sepertinya sangat menikmatinya, dan akupun ikut senang karena kau tak lagi membuatku capek dengan jadwal mingguan ke mall-mu itu. Bahkan saat kewajiban untuk mengikutinya selesai, kau dan teman-teman sekelompokmu berinisiatif untuk melanjutkannya secara informal untuk memperdalam pemahaman agama.

Pertengahan 2004,

Kau mulai masuk perguruan tinggi, dan dengan gila-gilaan kau mengajakku bekerja keras menekuni isi perpustakaan. Jurnal-jurnal ilmiah, textbook, artikel, dan apapun namanya, berbahasa asing, font yang kecil dan baris yang rapat menjadi keseharianmu sekarang. Kau sering memaksaku bekerja lebih keras daripada dulu. Bahkan ketika telah larut malam yang berarti waktu istirahatku, kau masih saja mengajakku memelototi layar laptop dan baris-baris tulisan di buku tebalmu. Paper, laporan praktikum, makalah, atau sekedar pe-er yang diberikan dosenmu.

Di tahun keduamu di perguruan tinggi, Aku tak kuat, akupun jatuh sakit, kau mengeluhkan bahwa aku sekarang tidak bisa melakukan tugasku dengan maksimal. Kau bilang informasi yang kuberikan kabur, berpendar-pendar, dan benda-benda nampak berbulu katamu. Kau memeriksakanku ke dokter, “minus tiga” kata dokternya. Dan terhitung sejak saat itu dua lensa bening menemani hari-hariku, membantu melaksanakan tugasku padamu.

Awal tahun 2007,

Hari ini aku sedang agak sebel padamu, saat kau bicara dengan teman laki-laki-mu, aku mengarah pada wajahnya, “ah… pemandangan indah, ganteng juga temanmu itu…” kupikir. tapi kau tak memberiku kesempatan lebih lama menikmati “pemandangan indah” itu. Kau buru-buru mengarahkanku ke pohon mangga di halaman kampusmu. “hey!!! Apa-apaan ini, ngapain kamu ngelihatin pohon mangga itu, bukannya yang kamu ajak ngobrol ada di sana!!”. Ah, rupanya kau termakan kata-kata murabbi-mu kemarin siang itu, dia bilang aku adalah anak panah setan “bilang tuh ke murabbi-mu, jaga mulutnya, enak aja aku dibilang anak panah setan”. Tapi kau membelanya, ghadul bashar kau bilang, agar aku dan hatimu lebih bersih juga sehat, jadi aku hanya boleh berinteraksi dengan yang baik dan halal.

Baiklah… kali itu aku terima alasanmu… tapi aku tidak bisa mengerti dengan kejadian berikutnya, saat kau dan rencananya enam orang kawanmu berdiskusi tentang hal besar yang sulit kumengerti, SYURO’ judulnya, kalo gak salah lihat apa yang kau tulis di buku catatanmu. Kalian memilih sebuah sudut mesjid kampus untuk diskusi itu.

“loh katanya tujuh orang, ini kok Cuma tiga??” tanyaku, dan belum sempat ku mendapat jawaban, suara berat terdengar dari balik papan pembatas masjid bagian putra, “assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… kita mulai syuro’ kita sore hari ini dengan bacaan……” kalimat berikutnya aku sudah malas untuk menyimak. Info yang kutangkap, tiga kawanmu yang cowok belum datang, itu berarti hanya ada satu orang yang lain ada di balik pembatas itu dan dia memimpin acara yang kau sebut syuro’ ini. Gila, kalau kubayangkan, dia di sana pasti keliatan kaya orang ngomong sendiri, Dan kau di sini berusaha keras memahami maksud suara yang tak jelas asalnya dari mana itu. Aku juga tidak bisa memberitahumu bagaimana ekspresi wajah orang yang terdengar suaranya itu. Tapi sudahlah, toh kau juga memberiku pekerjaan berat untuk mencermati berlembar-lembar outline yang diberikan oleh kawanmu dari balik pembatas.

Awal tahun 2010,

Hari ini kau akan bertemu pria yang identitas-nya kau terima dari murabi-mu tiga minggu yang lalu. Sayangnya aku hanya sekilas melihat foto yang tercantum di sana, dan kau langsung memasukkan fotonya ke amplop lagi sebelum aku bisa mencermati secara detil bentuk fisiknya “tunggu…., biarkan aku mengamatinya lebih detil, menilai dan memeriksa ciri fisiknya, jangan-jangan ada cacatnya“. Tapi Kau menolaknya, “tak perlu, mengenalinya agar tak salah orang, itu saja sudah cukup” katamu, oke.. itu hak-mu, lagipula nanti juga ada kesempatan bertemu langsung. Dan aku berpuas mengamati deskripsi dirinya dari baris-baris tulisan rapi di lembar-lembar putih yang murabbi-mu berikan untukmu. Hmmm…not bad sih kataku, dari tulisannya aku tahu dia mendekati tipe-mu, visioner, realistis, bertanggung jawab, luwes bermasyarakat, mudah beradaptasi, dan yang terpenting, kriteria shalih yang selalu kau tekankan, ada padanya.

Tapi setelah bertemu langsung dengannya… “yakin itu orangnya???sorry to say nih ya…. agak gendut, item, rambutnya kriting dan meskipun nggak bisa dibilang cebol, tapi tingginya aja gak lebih tinggi dari kamu, kan aneh kalo yang cewek lebih tinggi. Baju-nya juga biarpun tetep rapi, tapi keliatan banget udah lama dan mungkin keseringan dia pakai. Ups maap-maap lagi nih kalo aku jujur banget, tapi saranku mending nggak usah diterusin deh, apa kata dunia kalo kamu jadi ma dia, gak level gitu kalo kata anak jaman sekarang. Apalagi ngeliat waktu dia datang naik motor butut yang entah keluaran tahun berapa, banyak stiker, yang mending-mending kalo bagus, palingan itu buat nutupin cat yang udah ngelupas sana-sini, gak yakin kuat boncengin kamu juga, dia sendiri bisa sampe sini pake motor itu aja udah sukur.

Kau diem aja denger nasihatku. Cenderung melengos malah, waktu aku udah capek-capek nyerocos ngasih komentar tentang tuh orang. Dan seperti tak peduli dengan saran-saran yang kuberikan padamu kau tetep maju terus pantang mundur, agak tersinggung sih, tapi liat aja, aku juga gak akan menyerah ngomentari selama waktu yang kau ajukan untuk memberikan keputusan padanya.

Hari itu tiba, di mana kau harus memberi jawaban. Dan aku yakin kau akan mengatakan “tidak”. Karena alasan-alasan yang kuajukan cukup banyak dan kurasa kau terkompori dengan itu semua. Alasan-alasan tidak terpenuhinya kriteria yang dipatok oleh pada umumnya orang, gak muluk-muluk kok kriteria-ku, yang pas-pasan aja, pas ganteng-nya, pas kaya-nya.. hehe…. Tapi aku seperti ksamber gledek waktu kau bilang “iya” atas proses yang telah kau lalui beberapa pekan ini.

Aku protes habis-habisan. Aku marah padamu… kau sama sekali tidak menggubris pertimbangan, penilaian, saran dan nasihatku tentang pria itu. Aku seperti kau anggap angin lalu. Kenapa kau terima dia?? Padahal dia… dia… arggh… bahkan aku sudah kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan “ketidaksesuaiannya” denganmu. Tak ada satupun yang mempan padamu. Kenapa?? Apa kau sudah tidak butuh aku lagi?? Kau seperti lupa siapa yang telah mengajarimu banyak hal, mengenal warna, mengenal huruf, angka, mengenalkanmu pada bermacam-macam benda juga perbedaan wajah orang-orang di sekitarmu agar kau tak keliru memanggil mereka…

Sssssttt…. cukup Ai.. cukup… saatnya aku yang bicara” kau menghentikan berondongan pertanyaanku.

“Oke, aku akan diam, tapi jangan berharap banyak aku akan bisa menerima permohonan maafmu” jawabku

siapa bilang aku mau minta maaf sama Ai…” kau malah tersenyum bercanda, lalu meneruskan bicara dengan lebih serius dan suara yang dalam “aku hanya ingin Ai paham tentang sesuatu…” dia tertunduk, kalimatnya menggantung, dan aku pun sedikit melunak melihatnya.

“paham apa?” aku tak dapat menahan diri untuk bertanya.

paham bahwa aku sangat berterima kasih karena Ai telah mengajariku banyak hal… bahwa aku bisa tahu bahwa pelangi itu indah karena Ai mengajariku apa itu warna… bahwa aku bisa tahu isi buku-buku tebal itu karena Ai mengajariku mengenali bentuk huruf dan angka… bahwa aku berterima kasih karena Ai telah membuatku bisa mengenali orang-orang di sekitarku dan aku bisa menyapa mereka… dan yang terpenting, Ai selalu menunjukkan ke mana aku harus melangkah, mengingatkanku bahwa ada batu di jalan agar aku tidak tersandung dan jatuh. Tapi…..” lagi-lagi kau menggantungkan kalimatmu yang superpanjang itu.

“tapi??” kembali aku tidak dapat bersabar menunggu kau menyelesaikan kalimat intinya.

Ai, untuk kali ini aku tidak akan menggunakan penilaian, pertimbangan dan nasihatmu untuk mengambil keputusan. Ada yang lain yang lebih kupercaya penilaiannya dari pada kamu, dia tak menggunakan kriteria fana yang sering kau pakai. Penilaiannya lebih kekal daripada penilaianmu, karena dia tidak terikat dengan batasan-batasan dunia. Dia melihat apa yang ada di dunia dengan kacamata surga, sesuatu akan dia lihat baik kalau itu akan mengantarkanku ke surga.” kau bicara semakin berputar-putar.

“tapi siapa dia yang telah menggeser peranku? Telinga, lidah, hidung, dan kulit tak ada yang seperti itu, mereka menggunakan kriteria yang cenderung sama denganku. Darimana asalnya? sejak kapan kau memilikinya?” Aku semakin bingung.

akupun dulu tak menyadari kehadirannya, dia bilang namanya bashirah, Ai… dia ada bersamaku seiring kedekatanku dengan dengan Tuhanku, Tuhanmu juga kan Ai? Dan dia semakin jernih saja jika Ai, hati, dan indera yang lain bersih dan sehat, seperti yang kubilang dulu itu Ai… ketika Ai dan indera lain hanya berinteraksi dengan hal-hal baik dan halal. Kuharap kau bisa mengerti Ai…” kau menyelesaikan kalimatmu dengan lembut.

Aku tak dapat berkata-kata lagi, tak dapat membantah lagi apa yang telah kau jelaskan. Kali ini kau benar…. memang dulu aku yang mengenalkanmu pada banyak hal, mengajarimu banyak pelajaran bahkan sejak hari pertama kau lahir, Tapi kusadari sekarang, bahwa kau-lah penentunya, akan jadi apa aku, akan kau gunakan untuk apa. Dan sekarang kau telah bisa menyaring apa yang aku ajarkan padamu, apa yang kukenalkan padamu, memilih mana yang baik untukmu dan memilah yang buruk bagimu untuk disingkirkan. Kau tidak melulu menggunakanku untuk mengambil keputusan, sekarang aku tahu kau punya “dia” untuk melihat dengan lebih jernih. Aku sadar bahwa aku dan empat kawanku, para indera, bukanlah satu-satunya caramu mengambil keputusan.

Ah… kuakui… aku kalah darinya dalam banyak hal… tapi aku mengakui dengan ksatria, dan kini aku akan memberitahu dunia, bahwa aku, Ai, tak lebih baik daripada dia, yang orang-orang menyebutnya bashirah, yang dia ada karena kedekatanmu pada Tuhanmu, yang semakin jernih saat hatimu sehat, saat aku dan indera lain hanya berinteraksi dengan hal-hal yang baik…