Sing Wani Getih, Ora Bakal Ngelih

Hari ini… ikut training motivasi bisnis yang diadakan
jaringan bisnis manfaatku… di sini para pelaku bisnis oriflame d’bc network di bawah jaringan mbak Astriani Karnaningrum yang ada di jogja pada ngumpul. Menyimak, mencari inspirasi dan mengasah skill berbisnis. Acara diisi dengan share pengalaman bisnis oleh mbak Astri (fotonya ada tuh di sebelah, yg “ibu rumah tangga berpenghasilan 800rb sehari”, sekarang sih udah naek, sejuta sehari), Continue reading

satu tahun itu 365 hari

“ jika kau ingin tahu makna satu tahun, maka tanyakanlah pada mahasiswa yang pernah gagal pada SPMB”

Mungkin itu ungkapan yang sering kita dengar untuk memberikan gambaran tentang makna waktu. Namun sekarang, saya akan mengajak untuk melihat persepsi lain tentang makna satu tahun.

Alkisah seorang gadis, sebut saja namanya Tika, lulusan fakultas psikologi sebuah universitas ternama di Yogyakarta. Seorang calon psikolog (insya Allah), spesialisasi dalam bidang alat ukur psikologis, observasinya dalam, analisisnya tajam, peka perasaannya dan teliti pekerjaannya, perfeksionis orangnya.

Namun dia mengambil keputusan untuk memaknai satu tahunnya dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Memaknai setahunnya dengan sebuah pengabdian pendidikan.

Di sebuah daerah yang jauh dari keramaian, di salah satu daerah berikut, Majene (sulawesi barat), tulang bawang (lampung), bengkalis (riau), passer (kalimantan timur), halmahera selatan (maluku utara) dia akan ”dibuang”. Tempat dia akan menghabiskan satu tahunnya dengan penuh makna, penuh kontribusi nyata membangun masyarakat melalui pendidikan. Daerah ini baru bisa dicapai setelah berjam-jam perjalanan dari bandara terdekat, dan entah ada sinyal ponsel atau tidak.

Satu tahun adalah pengabdian, satu tahun adalah perubahan, satu tahun adalah investasi, satu tahun adalah perjuangan. One year for change…

Dan saya di sini, hanya bisa melepas keberangkatannya dengan sebuah makan siang di Bakso Kepala Sapi, diiringi heavy rain full of thunderstorm, semoga hujan itu adalah rahmat Allah akan sebuah perpisahan sementara dua orang sahabat. Dan saya di sini, dengan sebuah azzam yang kiat kuat menancap, ada janji dalam yang akan kutepati, bahwa akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak akan kalah darinya. Setahunku kedepan juga akan penuh dengan pengabdian, keikhlasan, kontribusi dan perjuangan. Agar nanti, di bulan November 2011 kita bisa bertemu dengan kepala terangkat, dengan kemenangan perlombaan kita, perlombaan siapa yang paling banyak melakukan kerja nyata selama satu tahun terakhir.

Paling tidak, kita memulainya dengan start yang sama ”pengabdian pendidikan untuk masyarakat yang kesulitan mengakses pendidikan berkualitas”. Kita lihat setahun lagi, siapa yang pencapaiannya paling banyak!!!

satu tahun?? siapa takut!!

EDUCATION FOR A BETTER FUTURE

Markas Besar Rumah Juara Semarang, 21 September 2010

Dedicated for my best friend, best partner ‘n best sister,  Tika Dewi Listiarini S.Psi.

orang yang tepat, yang Allah pilihkan untuk kita

Pasti senang rasanya lahir dari orang tua ilmuwan di sebuah keluarga ilmu pengetahuan, yang tradisi keluarganya adalah tradisi belajar, yang kudapan hariannya adalah buku-buku tebal, yang ngobrolnya adalah diskusi ilmiah. Yang selalu mendorong anak-anaknya menjadi yang terbaik. Kubayangkan, pasti kita tidak akan kesulitan untuk bisa memahami isi perpustakaan fakultas dan mereview jurnal-jurnal ilmiah berbahasa asing itu.

Tapi ternyata hidup bukan sekedar mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi mendapatkan apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik untuk kita. Obat itu memang pahit, tapi obat bisa menyehatkan kita. kita tidak bisa memilih obat apa yang diberikan pada kita, tapi dokter tahu, obat apa yang cocok yang bisa menyembuhkan kita.

Dan memang mungkin begitulah aku, lahir dari orang tua yang menurutku “biasa saja”, yang membiarkan anak-anaknya belajar dari alam, menyerahkan pendidikan pada institusi belajar standar pemerintah, yang tak pernah membahas berapa nilai merahku di raport, yang tak masalah pada IP-ku yang sudah ngos-ngosan walaupun hanya untuk sekedar mempertahankan diri pada posisi kepala tiga, yang tak pernah menghitung berapa angka semester yang yang sudah kutempuh kecuali dengan sedikit pertanyaan “kapan to kowe ki le arep wisuda?”.

Dan hal itu sangat memberiku keleluasaan, tak pernah ada telpon harian yang ngoyak-oyak untuk segera menyelesaikan skripsiku, karena mereka juga pasti bingung kalau aku jawab, “mulane, ben lek rampung, nia direwangi to le nggarap skripsi!” gimana caranya mau bantu kalau apa yang kupelajari saja mereka tak paham.

Keleluasaan semacam apa yang kumaksud di sini?? Bukan keleluasaan untuk bersenang-senang dengan males-malesan loh ya…., tapi keleluasaan untuk melakukan banyak hal yang menjadi “tanggung jawabku” yang lain selain tanggung jawab akademis.

Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya aku kalo orang tua-ku adalah tipe orang tua yang “rewel” dengan sekolah anak-anaknya. Pasti akan ada telpon tiap hari mengingatkan “pokoke sinau sing sregep wae nduk, rasah melu kegiatan sing aneh-aneh”. Atau telepon kemarahan karena mereka mendapati wajahku terekam kamera TV nasional saat ikut aksi tolak kenaikan BBM.

Satu peristiwa lagi yang membuatku tak boleh lepas bersyukur atas dipilihkannya mereka menjadi orang tuaku. Saat adekku (perempuan) minta izin untuk ikut aksi TUGU RAKYATnya BEM SI ke Jakarta tahun 2008 lalu. Kalian pasti membayangkan para orang tua pasti akan melarang keras bahkan mungkin para ibu akan menangis dan memohon-mohon agar anaknya tidak ikut berangkat. Tapi sungguh jawaban yang muncul tidak terduga, bahkan oleh kami, aku dan adekku. Bapak tidak menjawab dengan boleh atau tidak tapi justru dengan berbalik tanya “butuh sangu pira?”. (hwaaaaa….. I love you pak!!!!)

Yeah…. Itulah mereka, bapak dan ibuku, orang yang tepat yang dipilihkan Allah untukku.

pahlawan kesehatan tanpa tanda jasa

Hanya sebuah posyandu, pos pelayanan terpadu, yang mengurusi sekitar tigapuluhan balita dan ibu-ibu mereka. Hanya sebuah posyandu, yang kegiatannya ya begitu-begitu saja, timbangan, pencatatan di KMS, bagi snack alakadarnya yang mereka sebut PMT (pemberian makanan tambahan), paling banter ada vitamin tiap bulan februari dan agustus, kalo lagi ada mahasiswa KKN atau kunjungan dari kecamatan ya ada penyuluhan sedikit-sedikit.

hanya sebuah posyandu, tidak ada perawat, tidak ada dokter umum, apalagi dokter spesialis anak. hanya seorang bidan desa yang ditugaskan di situ dan beberapa kader yang, yah… paling pol lulusan SMA, karena yang lulusan D3 atau S1 pasti jadi wanita bekerja yang tidak mungkin ada di rumah jam jam sekian (jam 08.00-12.00).

hanya sebuah posyandu, yang peralatannya sangat jauh dari sebutan canggih, satu set timbangan gantung lengkap dengan sarung untuk nimbang yg masih bayi atau celana kodokan (biasa mereka menyebut) untuk yang sudah gedhean dikit. Ditambah beberapa buku administrasi posyandu yang mungkin sudah mulai digunakan sejak bertahun-tahun yang lalu (sampai bayi yang tercatat di situ sekarang sudah masuk SMP).

Tapi posyandu ujung tombang kebijakan kesehatan pemerintah, kontrol program keluarga berencana, pemberantasan balita kurang gizi, control program 100% bayi peroleh imunisasi, control program penurunan angka kematian ibu.

Tapi, bagi daerah tertentu, posyandu adalah satu-satunya layanan kesehatan bagi bayi dan balita yang murah dan mudah dijangkau dibanding harus ke puskesmas di kota kecamatan yang ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 5 km melewati bukit-bukit dan persawahan.

Tapi posyandu, bagi ibu-ibu di wilayah tertentu adalah saat yang membahagiakan, di mana mereka bisa membelikan makanan tambahan, susu, bubur bayi, biscuit bayi dengan harga yang murah. Karena gizi bagi mereka adalah makanan enak yang tidak biasa dimakan oleh anak-anaknya,  bukan susu dengan AA-DHA, FOS-GOS, Prebiotik-probiotik atau apapun itu, kebutuhan mereka belum sampai itu.

Ummm… jadi membayangkan, seandainya seluruh perempuan Indonesia sudah terdidik dengan gaya pendidikan pragmatis, yaitu pendidikan untuk mencari pekerjaan (baca: pekerjaan kantoran). Hari senin sampai hari jum’at mereka akan bekerja, sabtu-ahad saatnya weekend yang tidak boleh diganggu dengan apapun. Lalu bagaimana nasibnya posyandu?

Tapi saat ini, hal itu masih jadi sebatas bayangan gelap. Alhamdulillah negeri ini masih memiliki mbak marni, mbak desi, mbak sri, mbak halimah dan mbak-mbak yang lain di seluruh penjuru Indonesia yang masih bersedia menjadi pahlawan kesehatan ibu dan balita minimal bagi dusunnya, dengan menyisihkan beberapa hari dalam sebulan mereka demi pekerjaan sebagai kader posyandu.

terimakasih kepada semua kader posyandu seluruh penjuru negeri indonesia

Ditulis saat berada di persimpangan, diantara tumpukan sheet skala penelitian yang masih harus dikoreksi lagi scoring-nya, diatara kawan2 yang sibuk tes CPNS departemen ini departemen itu, di antara bebagai macam jobfair yang membanjiri jogja, diantara wacana baru di otakku tentang posyandu ini… ahh… selesaikan dulu yang satu ini nia… selanjutnya… kau punya banyak pilihan, terserah mana yang akan dipilih…

anak-anak berseragam hijau kuning…

mengingatkan pada masa2 tahun 1990-1992…

saat aku juga pakai seragam yang sama setiap hari senin dan selasa

masa2 di mana cuma harus mikir beda antara lingkaran, segitiga n segi empat.. gak harus mikir apa hubungannya value of children sama attitude toward female sterilization..(hubungannya baik-baik saja)

masa di mana hanya harus tahu sebelum makan apa yang dilakukan (cuci tangan, berdo’a, trus makan tanpa berantakan). tanpa harus mikir masak atw paling enggak beli makan di warung deket kampus..

masa di mana dengan uang seribu rupiah aku merasa jadi orang paling kaya sedunia… bukan masa di mana harus mensiasati uang 50ribu buat cukup seminggu..

masa di mana hanya kenal satu presiden…

sudahlah… sekarang tahun 2009… masa itu sudah 19 tahun yang lalu berlalu… hanya bernostalgia bahwa aku pernah melewati masa itu…

pengen kembali kah??? ouch… tidak…tidak.. terima kasih.. sudah cukup bahagia dengan kehidupan saat ini… meskipun harus bertahan di atas puing..