BrideTalk

sekedar warming up karena sudah lama sekali saya tidak nulis di blog ini.
foto ini diambil waktu kondangan ke nikahannya pak ahmad, household-nya SD Juara semarang. mempersunting mbak zakiyatul fikriyah atau akrab disebut “dek zaki” dari grobogan jawa tengah.
foto yang diambil dengan penuh perjuangan setelah melewat sekitar 3 km jalan yang rusak parah, mirip kali asat bgt. tp alhamdulillah terbayar setelah sampai di lokasi walimatul ‘ursy.

mb tina-bu ulma-bu diah-p'ahmad-mbak zaki-bu rini-bu asri-nia-mb nitis

pokoke, barakallahulaka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair…..

Life Never Ask You What You Want

Ahad sore ini seperti  biasa, saya menunggu bus Patas Jogja-Semarang langganan saya, menunggu di sebuah agen perjalanan. Namun ada yang menarik sore ini, di tengah kebosanan saya menunggu bus yang terlambat karena macet di mana-mana, saya disuguhkan sebuah drama realita keluarga, yang sungguh sangat sederhana, jujur namun begitu membukakan mata saya tentang sebuah kemungkinan cara hidup yang tidak normal, namun juga tidak salah.

Dimulai dari kedatangan 4 orang yang nampaknya adalah sebuah keluarga, ada ayah, ibu dan dua orang anak yang berusia kira-kira 10 dan 5 tahun. Hanya sang ayah yang terlihat rapi, sedang sang ibu dan dua anaknya memakai pakaian rumahan biasa saja, tidak nampak ketiganya akan melakukan perjalanan jauh. Dan benar saja, dari percakapan mereka saya bisa menyimpulkan bahwa sang ayah adalah tipe Ayah PJKA, Pulang Jum’at Kembali Ahad.

Hampir 20 menit mereka menunggu bus, dan saat bus yang ditunggu sang ayah datang, maka adegan mengharukan tanpa rekayasa itu pun terjadi, sang ayah menciumi kedua buah hatinya seolah tidak ingin perpisahan itu terjadi, dan saat giliran pamit pada istrinya, wanita itu mencium tangannya lalu memeluknya erat. Seandainya saya diberi kesempatan untuk memberikan backsound untuk adegan ini, maka saya akan menyanyikan OST Armagedon ini :

So kiss me and smile for me..

Tell me that you’ll wait for me..

Hold me like you’ll never let me go..

Cause I’m living on a jetplane..

Don’t know when I’ll be back again..

Oh babe… I hate to go…

Ah… tidak… saya hanya menyenandungkan lagu itu dalam hati sambil agak berkaca-kaca. Inilah kenyataan hidup, satu pelajaran hidup saya dapatkan sore ini. Tentang sebuah fenomena rumah tangga jarak jauh, Long Distance Relationship kalo bahasa kerennya anak jaman sekarang. setiap keluarga pasti menginginkan setiap anggotanya berkumpul, tak ada satupun yang terpisah. Menginginkan keluarga yang sempurna, ayah berangkat ke kantor setiap pagi dan pulang di sore harinya.

But life never ask you what you want, hidup tidak pernah menanyaimu tentang apa yang kamu inginkan. Kenyataannya adalah bahwa kantor si ayah ada di luar kota, luar, provinsi atau bahkan luar pulau. Ayah hanya akan pulang di hari jum’at malam lalu pergi bekerja lagi di hari ahad dan baru jum’at pekan depan atau bulan depan akan pulang lagi, sementara untuk pindah rumah mengikuti tugas ayah juga tidak mungkin, karena mungkin si ibu masih terikat kontrak sekian bulan atau sekian tahun di tempatnya bekerja.

Maka, jika jalan ini memang yang harus ditempuh, maka jalani saja. Lalu lihatlah ruang tunggu bandara, stasiun, agen-agen perjalanan akan menjelma menjadi penuh bunga bagi anak-anak itu, bunga harapan menanti ayah mereka keluar dari kereta, bus atau pesawat di hari Jum’at. Juga bunga harapan agar ayah mereka pulang lagi di pekan depan meskipun mereka baru saja melepas ayahnya pergi di hari Ahad sore itu.

Inilah wajah kehidupan yang lain, yang sebelumnya tidak terpikirkan ada oleh saya, yang Salim A. Fillah menggambarkannya dengan kalimat “saat amanah menggariskan jarak”. Ternyata hal tersebut banyak terjadi di sekitar kita. Dan nampaknya mereka menjalani dengan baik-baik saja, menikmati ritme dan bersiap untuk kejutan dariNya.

How about you?

Semarang, 24 April 2011

-hampir tengah malam-

Pudarnya Pesona Gadjah Mada *benarkah??

Bagi kalian yang pernah membaca novel Pudarnya pesona Cleopatra yang ditulis oleh habibburrahman El Shirazy, pasti akan berekspektasi tulisan ini akan bercerita dengan cara yang sama dengan dengan novel kang abik itu.

Jawabannya mungkin ya di satu sisi, namun juga tidak, di sisi yang yang satunya. Ya untuk pelajaran mengenai measurement, alat ukur yang harus kita pakai untuk memandang segala sesuatu dalam hidup.  Namun sekaligus juga tidak di sisi yang lainnya, pada bagian bahwa kesadaran dan penyesalan itu datang pada akhir cerita, akan saya bangun kesadaran itu saat ini, mulai dari sekarang agar nanti di akhirnya tidak ada yang perlu disesalkan.

Tulisan ini hanya akan sedikit mengingatkan bahwa ternyata sudah sepuluh bulan saya berada di kota yang baru ini, kota Atlas, Semarang. Sepuluh bulan yang kadang terasa lama namun juga sekaligus kadang terasa begitu cepat. Yah, memang kadang alat ukur waktu kita jadi relatif, tergantung bagaimana situasinya. Sepuluh bulan yang cepat saat melihat anak-anak tumbuh dan berkembang dengan segala macam progress mereka, akhlak-nya, hafalannya, shalatnya, asmaul husna-nya, senamnya, lukisnya, renangnya, musiknya dan perkembangan perkembangan lainnya. Namun juga sekaligus sangat lambat saat harus menanti datangnya hari jum’at sedang saat itu masih hari senin.

Semarang memang begitu eksotis dengan gedung-gedung tinggi-nya, dengan simpang lima yang legendaris, lawang sewu yang mistis, serta Tugu Muda yang penuh historis. Mereka dihadirkan padaku untuk menggantikan malioboro, beringharjo dan benteng vrederburg yang enam tahun lalu, lebih dahulu kukenal.

Pun saat “Sang Pangeran berkuda” datang menyapa dengan segala kecerdasan yang sama, pengetahuan yang sama bahkan dengan kearifan dan kedewasaan yang jauh melebihi usianya. Namun rupanyanya kerinduan pada lembaran-lembaran usang milik “Sang Patih” di sudut khayangan masih belum sirna sempurna. Masih tersimpan bara di ujung asa ini untuk bisa kembali berjumpa dengan mereka di sepinya keramaian kayangan oleh manusia-manusia yang haus ilmu pengetahuan.

Kurasa pesona sang patih belum sepenuhnya pudar. Masih ada keping-keping harapan untuk bisa kembali berguru padanya, kembali mereguk segarnya mata air ilmu pengetahuan darinya. Namun sekarang masih mencukupkan diri mengagumi pesonanya dari kejauhan. Sambil memendam bara yg  suatu saat bisa kembali bisa mendapat siraman bahan bakar agar semakin berkobar, bara kerinduan pada ilmu pengetahuan “sang patih”.

Namun sekarang, masih ada cita yang harus diperjuangkan di sini. Masih ada rizki yang harus dijemput di sini. Masih ada senyum yang harus terus dirangkai di sini, di “rumah” ini.

demi cinta ku pergi
tinggalkanmu relakanmu
untuk cinta tak pernah
ku sesali saat ini
ku alami ku lewati


suatu saat ku kan kembali
sungguh sebelum aku mati
dalam mihrab cinta ku berdoa semoga

suatu hari kau kan mengerti
siapa yang paling mencintai
dalam mihrab cinta ku berdoa padaNya

karena cinta ku ikhlaskan
segalanya kepadanya
untuk cinta tak pernah
ku sesali saat ini
ku alami ku lewati

(Dalam Mihrab Cinta-Afgan)

“dugem” series : edisi kisah Nabi Nuh

Hari ini liqo’, giliran kultumnya adalah kisah Nabi Nuh AS. Kisah diceritakan oleh salah seorang rekan dengan menggebu-gebu dan begitu heroiknya hingga saat bahtera nabi Nuh bisa menyelamatkan kaum yang beriman namun anak-istri nabi Nuh yang tidak beriman tenggelam dalam banjir dahsyat itu.

gara-gara kebanyakan nonton film laskar pelangi, waktu ditanyain satu persatu tentang hikmah kisah itu, saya nyeplos asal aja niruin gayanya Ikal “kalau kau tak rajin shalat, pandai-pandailah berenang…”. Ups…. Asli, itu niatnya iseng aja untuk memecah kekakuan, tapi, oo oww… sepertinya saya nyeplos di tempat, waktu dan forum yang salah. Krik.. krikk.. krikkk….. respon tidak sesuai harapan..

haha… sepertinya saya harus belajar beradaptasi di sini. Tidak seperti di “sana” yang memang isinya kebanyakan anak muda yg rada2 “menggila”. Di sini sepertinya harus belajar lebih dewasa, belajar tentang hidup dan kehidupan., belajar untuk lebih tenang dan terkontrol, belajar mengurangi ceplosan-ceplosan gak penting (kebiasan buruk nih…).
Apalagi hari ini saya resmi sudah menjadi “the last jomblo” di grup arisan ini. jadi harus menyesuaikan diri dengan mayoritas ibu-ibu di sini yang tenang, serius dan kalem… Hmmm… berkawan dengan ibu-ibu memang saya jadi banyak belajar bahwa hidup tidak selalunya indah, langit tak selalu cerah, suram malam tak berbintang.. itulah lukisan alam… (nasyid kaliii…).

Huuufft.. harus ngurangi bercandaan, ngurangi ceplosan-ceplosan aneh, ngurangi ketawa-ketiwi…. Bisa, bisa, bisa.. harus bisa… Allahu Akbar… (berasa inspirasi pagi).

open up your heart and let the sunshine in

Mommy told me something
a little kid should know.
It’s all about the devil
and I’ve learned to hate him so.
She said he causes trouble
when you let him in the room.
He will never ever leave you
if your heart is filled with gloom.

So let the sun shine in
face it with a grin.
Smilers never lose
and frowners never win.
So let the sun shine in
face it with a grin
Open up your heart and let the sun shine in.

When you are unhappy,
the devil wears a grin
But oh, he starts to running
when the light comes pouring in
I know he’ll be unhappy
‘Cause I’ll never wear a frown
Maybe if we keep on smiling
He’ll get tired of hanging ’round.

If I forget to say my prayers
the devil wears a grin.
But he feels so awful awful
when he sees me on my knees
So if you’re full of trouble
and you never seem to win,
Just open up your heart and let the sun shine in.

So let the sun shine in
face it with a grin.
Smilers never lose
and frowners never win.
So let the sun shine in
face it with a grin
Open up your heart and let the sun shine in.

 

awalnya biasa aja denger lagu ini, tapi sekarang jadi suka sekali dengan lagu ini… gara2 setiap hari disetel di kompie-nya pak jek…

lagu yg ringan, ceria, tapi bermakna dalam….

bukan tersenyum karena kau bahagia, tapi kau bahagia karena kau tersenyum…

“tabassummuka fi wajhi akhika shadaqah, senyum di hadapan saudaramu itu adalah shadaqah…”

ten months

alhamdulillah….

pada awalnya tidak membayangkan semarang akan menjadi kota perjuangan selanjutnya, setelaH 18 tahun bersama magelang dan nyaris 6 tahun bersama jogja…

yah.. tapi ternyata, 10 bulan terlewati dengan cukup mudah, walaupun pada awalnya sempat “awang-awangen” untuk menjalani hidup bersama semarang.

yah… hari ini tepat sepuluh bulan bersama keluarga besar SD Juara dan Rumah Zakat Semarang :

one place called home, kalo saya bilang,

sepuluh bulan pertama yang luar biasa…

dan insya Allah akan berlanjut kebersamaan ini, perjuangan ini.

semoga Allah mengaruniakan dada yang lapang dan nafas yang panjang…

21 Mei 2010-25 Maret 2011

-dan kini harus benar-benar berdamai-

one place called home #2

part of my life

aku menyebutnya “yang tersisa”
namun mereka menyebutnya “yang akan terus bertahan”

aku mengatakan ” kita ditinggalkan”
mereka meyakinkanku bahwa “kita melepasnya pergi”

aku mengatakan “apa jadinya?”
mereka menjawab “pasti bisa”

aku mengeluh “ah, sudah pagi”
mereka meneriakkan “SEMANGAT PAGI!!!”

aku merajuk, “masih jauh sekali jalannya…”
mereka melantangkan “hey.. ada banyak kejutan menanti di depan”

aku hampir saja jatuh
mereka mengangkatku dan memapahku kembali berjalan
….
terima kasih untuk mereka yang telah bersedia menjadi keping puzzle hidupku…