karena matahari harus membagi rata sinarnya

Saat gelap itu semakin pekat, kita menanti dia datang sebagai sebuah fajar yang  akan membawa kita dari kegelapan menuju cahaya.

Namun adakala kita caci-maki dia karena teriknya begitu menyengat seolah dapat mendidihkan isi ubun-ubun kita.

Ada juga saat dimana kita mengaguminya sebagai sebuah keindahan senjakala, walaupun setelah itu ia menghilang entah kemana.

Tapi tak bisa kita berharap dia akan selalu menjadi fajar, karena dengan segera pagi akan menyingsing dan siang semakin bergulir.

Tak boleh kita terlalu keras mencaci-maki saat dia begitu terik, karena pak tani tetangga rumah kita telah menanti teriknya, untuk mengeringkan berkarung gabah panen kemarin.

Tak perlu juga kita bersedih atas terbenamnya dia, karena kepergiannya akan terganti oleh bintang-bintang yang jauh lebih indah dan lebih banyak, yang lebih indah dan lebih banyak. Karena terbenamnya dia di hadapan kita, merupakan fajar harapan bagi mereka di belahan bumi yang lain.

Hadir dan perginya telah diatur sedemikian rapi olehNya, agar kemanfaatan menjadi milik semua. Agar tak ada yang terlalu panas karena dia hadir lebih lama, ataupun yang dingin membeku karena lama menanti terbitnya.

Dan dialah matahari, yang harus membagi rata sinarnya…

orang yang tepat, yang Allah pilihkan untuk kita

Pasti senang rasanya lahir dari orang tua ilmuwan di sebuah keluarga ilmu pengetahuan, yang tradisi keluarganya adalah tradisi belajar, yang kudapan hariannya adalah buku-buku tebal, yang ngobrolnya adalah diskusi ilmiah. Yang selalu mendorong anak-anaknya menjadi yang terbaik. Kubayangkan, pasti kita tidak akan kesulitan untuk bisa memahami isi perpustakaan fakultas dan mereview jurnal-jurnal ilmiah berbahasa asing itu.

Tapi ternyata hidup bukan sekedar mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi mendapatkan apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik untuk kita. Obat itu memang pahit, tapi obat bisa menyehatkan kita. kita tidak bisa memilih obat apa yang diberikan pada kita, tapi dokter tahu, obat apa yang cocok yang bisa menyembuhkan kita.

Dan memang mungkin begitulah aku, lahir dari orang tua yang menurutku “biasa saja”, yang membiarkan anak-anaknya belajar dari alam, menyerahkan pendidikan pada institusi belajar standar pemerintah, yang tak pernah membahas berapa nilai merahku di raport, yang tak masalah pada IP-ku yang sudah ngos-ngosan walaupun hanya untuk sekedar mempertahankan diri pada posisi kepala tiga, yang tak pernah menghitung berapa angka semester yang yang sudah kutempuh kecuali dengan sedikit pertanyaan “kapan to kowe ki le arep wisuda?”.

Dan hal itu sangat memberiku keleluasaan, tak pernah ada telpon harian yang ngoyak-oyak untuk segera menyelesaikan skripsiku, karena mereka juga pasti bingung kalau aku jawab, “mulane, ben lek rampung, nia direwangi to le nggarap skripsi!” gimana caranya mau bantu kalau apa yang kupelajari saja mereka tak paham.

Keleluasaan semacam apa yang kumaksud di sini?? Bukan keleluasaan untuk bersenang-senang dengan males-malesan loh ya…., tapi keleluasaan untuk melakukan banyak hal yang menjadi “tanggung jawabku” yang lain selain tanggung jawab akademis.

Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya aku kalo orang tua-ku adalah tipe orang tua yang “rewel” dengan sekolah anak-anaknya. Pasti akan ada telpon tiap hari mengingatkan “pokoke sinau sing sregep wae nduk, rasah melu kegiatan sing aneh-aneh”. Atau telepon kemarahan karena mereka mendapati wajahku terekam kamera TV nasional saat ikut aksi tolak kenaikan BBM.

Satu peristiwa lagi yang membuatku tak boleh lepas bersyukur atas dipilihkannya mereka menjadi orang tuaku. Saat adekku (perempuan) minta izin untuk ikut aksi TUGU RAKYATnya BEM SI ke Jakarta tahun 2008 lalu. Kalian pasti membayangkan para orang tua pasti akan melarang keras bahkan mungkin para ibu akan menangis dan memohon-mohon agar anaknya tidak ikut berangkat. Tapi sungguh jawaban yang muncul tidak terduga, bahkan oleh kami, aku dan adekku. Bapak tidak menjawab dengan boleh atau tidak tapi justru dengan berbalik tanya “butuh sangu pira?”. (hwaaaaa….. I love you pak!!!!)

Yeah…. Itulah mereka, bapak dan ibuku, orang yang tepat yang dipilihkan Allah untukku.

antara ASI, susu formula dan wanita pekerja

Pernahkah kalian mendengarkan percakapan macam ini antara dua orang ibu, sebut saja mama dan bunda :

Mama  : “wah, gajiku sebulan Cuma cukup buat beli susunya si adek”

Bunda : “emang susunya mahal ya?”

Mama  : “Iya lah, kan aku maunya yang nutrisinya komplit buat anakku”

Bunda : “kalau mau nutrisinya komplit tinggal dikasih makanan empat sehat lima sempurna kan susunya gak harus mahal”

Mama  : “masalahnya si adek belum belum boleh makan makanan padat”

Bunda : ” emang umur berapa?”

Mama  : “tiga bulan”

Bunda : “kan tiga bulan dikasih ASI aja cukup, nggak harus dikasih susu formula kan?”

Mama  : “kan aku musti masuk kerja lagi, berangkat jam delapan pagi pulang jam lima sore, cutiku udah habis sih”

Bunda : “kenapa kamu kerja?”

Mama  : “ya nyari uang lah…”

Bunda : “uangnya buat apa?”

Mama  : “buat beli susu buat anakku..”

Nah lho…. Lingkaran setan antara susu formula, ASI dan perempuan pekerja. Jawabannya balik lagi ke atas… kalo kata Prof. Koentjoro, di kuliah konseling keluarga dan perkawinan kalo gak salah, saat kita melakukan wawancara mendalam, jawaban subjek akan menjadi dasar pertanyaan selanjutnya “mengapa itu bisa terjadi”, dan pertanyaan “mengapa” itu baru akan terhenti jika jawabannya sudah mengenai hal yang prinsipil, misal anjuran atau larangan dalam agama, karakter pribadi, prinsip hidup dll.

jika dalam percakapan tadi, seandainya si bunda melakukan prinsip konseling seperti di atas, pertanyaan itu tidak akan berhenti pada hal-hal yang prinsipil, namun hanya akan muter saja terus dengan jawaban yang diulang-ulang.

Hanya ingin menceritakan sebuah fragmen percakapan, yang redaksi kalimatnya tidak sama persis mungkin dengan yang pernah kalian lihat dan dengarkan. Tapi pasti kalian pernah lihat kejadian semacam ini.

pahlawan kesehatan tanpa tanda jasa

Hanya sebuah posyandu, pos pelayanan terpadu, yang mengurusi sekitar tigapuluhan balita dan ibu-ibu mereka. Hanya sebuah posyandu, yang kegiatannya ya begitu-begitu saja, timbangan, pencatatan di KMS, bagi snack alakadarnya yang mereka sebut PMT (pemberian makanan tambahan), paling banter ada vitamin tiap bulan februari dan agustus, kalo lagi ada mahasiswa KKN atau kunjungan dari kecamatan ya ada penyuluhan sedikit-sedikit.

hanya sebuah posyandu, tidak ada perawat, tidak ada dokter umum, apalagi dokter spesialis anak. hanya seorang bidan desa yang ditugaskan di situ dan beberapa kader yang, yah… paling pol lulusan SMA, karena yang lulusan D3 atau S1 pasti jadi wanita bekerja yang tidak mungkin ada di rumah jam jam sekian (jam 08.00-12.00).

hanya sebuah posyandu, yang peralatannya sangat jauh dari sebutan canggih, satu set timbangan gantung lengkap dengan sarung untuk nimbang yg masih bayi atau celana kodokan (biasa mereka menyebut) untuk yang sudah gedhean dikit. Ditambah beberapa buku administrasi posyandu yang mungkin sudah mulai digunakan sejak bertahun-tahun yang lalu (sampai bayi yang tercatat di situ sekarang sudah masuk SMP).

Tapi posyandu ujung tombang kebijakan kesehatan pemerintah, kontrol program keluarga berencana, pemberantasan balita kurang gizi, control program 100% bayi peroleh imunisasi, control program penurunan angka kematian ibu.

Tapi, bagi daerah tertentu, posyandu adalah satu-satunya layanan kesehatan bagi bayi dan balita yang murah dan mudah dijangkau dibanding harus ke puskesmas di kota kecamatan yang ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 5 km melewati bukit-bukit dan persawahan.

Tapi posyandu, bagi ibu-ibu di wilayah tertentu adalah saat yang membahagiakan, di mana mereka bisa membelikan makanan tambahan, susu, bubur bayi, biscuit bayi dengan harga yang murah. Karena gizi bagi mereka adalah makanan enak yang tidak biasa dimakan oleh anak-anaknya,  bukan susu dengan AA-DHA, FOS-GOS, Prebiotik-probiotik atau apapun itu, kebutuhan mereka belum sampai itu.

Ummm… jadi membayangkan, seandainya seluruh perempuan Indonesia sudah terdidik dengan gaya pendidikan pragmatis, yaitu pendidikan untuk mencari pekerjaan (baca: pekerjaan kantoran). Hari senin sampai hari jum’at mereka akan bekerja, sabtu-ahad saatnya weekend yang tidak boleh diganggu dengan apapun. Lalu bagaimana nasibnya posyandu?

Tapi saat ini, hal itu masih jadi sebatas bayangan gelap. Alhamdulillah negeri ini masih memiliki mbak marni, mbak desi, mbak sri, mbak halimah dan mbak-mbak yang lain di seluruh penjuru Indonesia yang masih bersedia menjadi pahlawan kesehatan ibu dan balita minimal bagi dusunnya, dengan menyisihkan beberapa hari dalam sebulan mereka demi pekerjaan sebagai kader posyandu.

terimakasih kepada semua kader posyandu seluruh penjuru negeri indonesia

Ditulis saat berada di persimpangan, diantara tumpukan sheet skala penelitian yang masih harus dikoreksi lagi scoring-nya, diatara kawan2 yang sibuk tes CPNS departemen ini departemen itu, di antara bebagai macam jobfair yang membanjiri jogja, diantara wacana baru di otakku tentang posyandu ini… ahh… selesaikan dulu yang satu ini nia… selanjutnya… kau punya banyak pilihan, terserah mana yang akan dipilih…

ramadhan……

hmm….
nanti malem udah terawehan….

bwt smwnya…. mohon maaf bila ada kesalahan… untuk memulai ramadhan dg bersih dan tenang…

nanti saja lah…

nulis banyak banyak-nya nanti saja…..
fokus dulu ma si Mr.S…. bu DPS pulang tgl 14 agustus…. mau ujian kan????
mohon do’a kalian banyak-banyak ya…..

lima agenda rutin..

ada lima agenda rutin yang beberapa hari ini rajin kuikuti… demi beberapa sheet skala try out yang harus diisi oleh para ibu2 pasangan usia subur peserta acara2 tadi.

1. arisan ibu2

2. rapat PKK

3. yasinan

4. pengajian ibu-ibu

5. posyandu

subhanallah, pengalaman yang berharga betul… merasakan kembali sensasi  KKN, tapi ini lebih sederhana…

silaturahim ke kepala dusun, ikut pengajian, ngejelasin bagaimana mengisi skala ke ibu2 pasangan usia subur..

utk ke dusun sebelah harus nglewati “mbulak” (persawahan luas) di malam hari, lewat kuburan juga. acara pengajian dll seringnya dimulai ba’da isya kira2 jam8, itupu kalo tanpa tunggu2an.. selesai paling cepet pkl 21.30, kalo ditambahi rapat muslimatan bisa selesai jam 11 malem.. (pokoke jam malem akhwat jogja gak berlaku sama sekali)

alhamdulillah… ambil data utk try out sudah selesai… trus skoring… selanjutnya dianalisis… semoga tidak banyak aitem yang berguguran di jalan try out…

selanjutnya, ambil data….

kapan ujian?? segera!!!

“hubungan antara nilai anak (value of children) dan sikap terhadap sterilisasi wanita pada ibu-ibu pasangan usia subur di desa Karangtalun, Ngluwar Magelang”

semoga dimudahkan… rabbi zidni ‘ilma.., warzuqni fahma… amin..

berai…

Sahabat, ingatkah kalian dengan cerita sekelompok pemuda dengan cita-cita besar “masyarakat madani”? semoga kalian masih ingat. Sebuah “ikatan mahasiswa masyarakat madani”. yang saat ini bahkan belum genap berumur 3 purnama. Namun ternyata ujian tak mengenal usia. Ujian datang kapanpun Allah menghendaki kami naik tingkat.
Sahabat, saat ini, kami sedang butuh do’a banyak-banyak dari kalian, agar kami mampu lulus dari ujian kami yang pertama, hingga lulus dan naik tingkat.
Sahabat, beberapa waktu ini kami sedang terberai dalam jarak, tak dapat saling berjumpa,bertatap muka dan berkumpul dengan lengkap. Empat pejuang im3 sedang menjadi duta Kerja Nyata pemberdayaan masyarakat. Yopi, Wahyu Ade, Sekti dan Ismi sedang menjalankan amanah akademis pemberdayaan masyarakat mereka, ya… mereka sedang KKN selama dua bulan ke depan, dan Sekti sedang praktikum umum selama sebulan di luar kota. Apa kabar Sumedang, Ngawi dan Gunung Kidul? Kami titipkan sahabat-sahabat kami pada kalian.
Saat im3 telah mempersiapkan diri untuk hanya berlima karena empat personel yang lain KKN dan PU, ujian kembali menghampiri, boss kami, alias cak Syamsi jatuh sakit sampai harus hospitalized di RS panti rapih selama beberapa hari, dan pastinya juga pemulihan kondisi sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Syafakallah Cak!! Semoga lekas membaik…
Ternyata tidak sampai di situ saja, bahkan belum sampai cak Syamsi keluar dari rumah sakit, kembali kami dengar kabar duka dari seorang sahabat im3 kami, sutrisno, harus segera pulang ke Riau karena ayahanda sutrisno wafat, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni dosa beliau, dan melapangkan kubur beliau.
Di sini masih ada kami bertiga, aku, sittati dan siti yang insya Allah, akan berusaha maksimal, bertiga membesarkan im3 untuk sementara ini, sampai yopi, wahyu, sekti, ismi dan trisno kembali ke jogja, dan sampai cak Syamsi sembuh benar dari sakitnya.
Sahabat, do’akan kami… kami butuh do’a kalian banyak-banyak…

Pojok Kanan Atas Al Fath, 7 Juli 2009

dua puluh tiga

whewwww….. terbangun di hari ini, 2 Juli 2009… dengan sebuah beban yang berat. beban angka 23 yang nampak begitu besar nominalnya..

banyak yang belum tercapai, banyak yang belum terlaksana, masih banyak yang belum optimal….

bismillah… semoga angka yang masih tersisa menjadi optimal, seluruhnya untuk kebaikan, seluruhnya menjadi kebaikan, menjadi bekal agar ku telah layak menghadap, saat “nomor antrianku” dipanggilNya…

sambat karo sapa??

seperti lagu campursari…

yen ora sambat… ora kuat…

arep njaluk tulung… bingung lehku nembung…

mungkin itulah backsound yang tepat buatku saat ini.. pertemuan pertama dengan ibu-ibu arisan RT .. bener2 trial and error bgt…  coba bayangkan.. seratus aitem skala kita minta ibu2 itu ngisi… dengan tingkat pendidikan yang bervariasi… dan akhirnya… diPRkan saja.. diambil jumat depan..

dari 10 dusun… baru 3 dusun yang kadus-nya aku sudah silaturahim. kalo ini… lebih ke faktor males, diaduk dengan banyak distorsi di rumah, dan dibumbui segala macam pekerjaan rumah (masak, asah-asah, nyapu, nyuci, nyetrika.. he..)

dari minimal 60 skala yang kubutuhkan untuk try out.. 9 set yang sudah kembali dengan terisi…

dari 150 kipas yang kubeli buat reward… sekarang kok tinggal 125 ya???

adakalanya merasa tidak berdaya…

adakalanya faktor2 luar yang banyak menghambat…

adakalanya kita hampir menyerah untuk semua itu…

tapi…

seringkali kita yang tidak mau memaksa diri sendiri… padahal bisa…

seringkali kita sendirilah yang menghambat…

dan seringkali… pertolongan Allah begitu dekat…teramat sering.. teramat dekat…

sambat karo sapa??? yo karo gusti Allah…

Next Page »