Pride and Prejudice
Mengenalnya pertama kali justru bukan dari membaca bukunya, namun dengan melihat filmnya. Berawal dari adek saya, neni, yang membawa pulang film ini ke rumah. Sampai sekian lama film ini tidak menarik perhatian saya saat membongkar folder “movies” di laptopnya, sepertinya ceritany aga membosankan. Namun saat mentok semua film di foldernya sudah saya tonton, film ini akhirnya menjadi pilihan terakhir saya.
Awalnya agak garing dan tidak mudeng dengan alur ceritanya, tapi diikuti saja. Dan sepertinya memang tidak terlalu membosankan menonton film ini. Apalagi dengan matthew MacFadyen memerankan tokoh cool Mr. Darcy (huaaa… melting…..). Kebiasaan jelek cewek nih, nonton film atau nonton bola bukan karena mainnya bagus, tapi karena yang main ganteng… (dasar!!)
Film ini menurut saya sangat “bersih”, tidak perlu ada skip di adegan-adegan tertentu. Kisah cinta di sini divisualisasikan dalam bentuk se-elegan mungkin. Kostumnya pun demikian, semua kostum perempuan pasti berupa gaun panjang, dengan lengan panjang, atau lengan pendek dengan ditambah sarung tangan panjang, kadang-kadang ditambah aksesoris berupa topi yang menutup kepala. Ibaratnya, tingal dijilbabin aja udah menutup aurat lah.. hehehe…..
Selesai menonton film ini saya ngobrol dengan neni, dari situ saya tahu bahwa film ini diangkat dari novel kuno karya Jane Austen yang dibuat pada tahun 1800-an. Yang bahasa aslinya adalah british English kuno yang kadang beberapa vocabulary-nya susah dipahami. Neni punya versi PDFnya, tapi katanya gak terlalu mudeng dengan bahasanya. Yah, sejauh ini cukup dulu minat saya terhadap novel ini. Hingga kemudian secara tak sengaja saya menemukan novel terjemahannya di took buku.
Saat itu saya sedang iseng ke Toga Mas Semarang. Langsung menuju bagian new release, lalu ke best seller, epos, lalu akhirnya sampailah saya di bagian “karya fenomenal”. Novel ini berada di antara tumpukan berjilid-jilid Harry Potter, gone with the wind, Scarlett, seri twilight dll. Hanya tinggal satu. Saya lihat harganya, wow… untuk ukuran novel setebal itu harganya murah . Belum diskon pula. Saya lalu mengambilnya dan membawa ke kasir.
Sebenarnya menurut banyak orang, dan saya sendiri, ceritanya datar-datar saja. Cerita tentang kisah cinta pada umumnya. Minim konflik, penyelesaian datar dan aktivitas tokoh-tokohnya benar-benar monoton menurut saya. Namun kenapa jadi segitunya fenomenal, sampai dikatakan “selama lebih dari 150 tahun, Pride and Prejudice tetap menjadi salah satu novel Inggris terpopuler”. Bahkan di sampul depannya tercetak sebuah keterangan judul “sakah satu roman terpopuler sepanjang masa”.
Tapi kemudian saya bisa paham sepemahaman saya, bahwa mungkin masyarakat modern kini merindukan kembali suaasana-suasana pada zaman itu, sekitar abad 19. Tidak hanya merindukan situasi secara fisik, berupa bangunan, model pakaian dan rumah-rumah bak istana yang ada di sana. Namun juga merindukan suasana tradisi yang mungkin saja dibilang kolot, penuh pengekangan, batasan-batasan dan aturan yang kadang untuk masa sekarang nampak mengada-ada. Namun justru karena batasan-batasan itulah, orang mudah bahagia dengan sesuatu hal kecil saja, orang lebih sensitive terhadap hal-hal yang menyenangkan, yang itu tidak akan dirasakan dalam kehidupan yang mengagungkan kebebasan, liberalism dan hedonism, di mana orang hanya melakukan apa-apa yang mereka senangi tanpa peduli dengan aturan.
Lebih khusus bagi para pekerja zaman sekarang, kisah ini banyak memberikan gambaran mengenai kunjungan-kunjungan ke daerah lain dalam waktu yang lama, minimal hitungan pekan, orang dapat tinggal di tempat lain di luar wilayahnya untuk sekedar menghabiskan musim panas di tempat bunga-bunga indah bermekaran. Hal ini tentu menjadi hal yang mustahil bagi para pekerja yang terikat dengan jam kerja. Bila libur atau cuti pun jarang lebih dari 2 pekan.
Ah… saya terlalu banyak bicara, jangan anggap ini sebagai sebuah resensi film atau buku. Saya lebih suka menyebutnya inspirasi selepas membaca buku ini. Tidak saya rekomendasikan buku ini pada anda yang sibuk, karena memang tidak banyak pengetahuan yang akan anda dapat dari buku ini, ia akan membuang waktu anda yang berharga. namun jika anda ingin hiburan dalam waktu luang anda, maka saya rasa buku ini bisa menjadi alternatif “hiburan intelektual” bagi anda.
-gemahsari168, 14 september 2011-





