Negeri Sejuta Lebah

Negeri Sejuta Lebah

Konsep umum :

Anak-anak berkunjung ke negeri sejuta lebah untuk mempelajari sikap-sikap positif dari lebah, yaitu :

  • Bersih dan hanya mengambil apa yang bersih/baik
  • Rapi, teratur, efisien, teliti
  • sabar
  • Rela berkorban
  • Totalitas
  • Patuh
  • Bekerja sama

Namun, kali ini kita akan mengambil point “rapi, teratur, efisien, patuh, sabar dan kerja sama”

Anak-anak diberi gelar SAHABAT LEBAH

Anak-anak masuk ke lorong pengecil untuk memasuki negeri sejuta lebah. Mereka diajak berkeliling oleh ratu lebah ke negerinya, berkeliling ke rumah-rumah para rakyat lebah untuk belajar dari mereka….

 

 

RINCIAN ACARA

07.00-07.30         : registrasi

PJ : mbak Yekti, tempat di depan rumah pak dukuh

 

07.30-08.00         : shalat dhuha

PJ : Kak Lily. Shalat dhuha di teras rumah pak dukuh. Alat : tikar, air wudhu

 

08.00-08.30         : pembukaan, grouping, mengarahkan ke negeri lebah

PJ mbak yekti, dibersamai oleh ratu lebah (nia)

 

08.30-08.45         : penjelasan oleh ratu lebah

PJ Nia, penjelasan bahwa anak-anak akan dibawa menuju negeri sejuta lebah dan berkeliling menemui rakyat lebah yang sedang giat bekerja.

 

08.45-09.00         : sahabat lebah masuk ke lorong pengecil untuk masuk ke negeri lebah

Pj : nia, alat: bambu lentur/hulahop, kain sarung

 

09.00-09.30         : game 1, bom kembar

PJ : mbak dona, anak diminta untuk membuat lingkaran besar, semua melipat tangan dan menunduk. Saat penjaga pos (rakyat lebah) mengatakan “BOOM” maka peserta harus menengokkan kepala ke salah satu arah kanan atau kiri. Peserta yang berhadapan dianggap terkena bom dan harus berteriak kaget, dan mereka mundur dari lingkaran sebagai pertanda telah mati. bila beberapa kali permainan masih ada yang mati, penjaga pos memantik peserta untuk berusaha sesedikit mungkin peserta mati. bila anak2 berdiskusi biarkan, tapi jangan mengarahkan untuk diskusi. Bila sampai 3 kali permainan tidak ada yang mati, permainan selesai.

 

09.30-10.00         : game 2, mengangkut madu

PJ : Lisa, peserta dibagi dalam 4 grup agar bisa saling berkompetisi. seolah2 membantu lebah untuk mengangkut madu. Tiap peserta dibekali 2 botol air mineral besar dan satu buah spons, mereka diminta untuk memenuhi botol mereka dengan air yang ada di ember yang berada agak jauh dari mereka dengan menggunaka spons. Setiap anggota kelompok harus bergantian mengambil air. Permainan selesai dalam waktu 5 menit, atau jika salah satu kelompok berhasil memenuhi botol mereka.

Kelompok yang menang mendapat hadiah khusus. Dan juga setiap anak mendapat “hadiah” dari rakyat lebah karena sudah membantu berupa madu sachet.

 

10.00-11.00         : mancing

Maksimal 2 ekor ikan yang dipancing. Ikan dibawa pulang sebagai oleh-oleh

11.00-11.30         : makan siang

Per kelompok. Sambil ngobrol tentang forum pekanan mereka selama ini, apa saja kegiatannya, kesan pesannya, pengen seperti apa ke depannya…

11.30-11.45         : penutup

 

mohon bersiap-siap untuk jadi pemandu : Eska, Moli, Wahyu, Huda, retno

Saya dan Elinor Dashwood

Banyak yang bertanya pada saya mengenai profil picture di Facebook. Ada yang mengira itu foto ibu saya atau embah saya. Gimana ceritanya, emaknya  Emma Thompson bisa punya anak yang mukanya kaya saya.

Baiklah, sedikit saya ingin bercerita mengenai profil picture saya itu, dan kenapa saya merasa mirip dengannya (secara garis hidup bukan mukanya..). dia adalah Emma Thompson yang memerankan Elinor Dashwood. Bukan emma Thompson yang saya merasa senasib, namun pada tokoh Elinor Dashwood, dia adalah salah satu tokoh fiktif yang ada di novel Sense and Sensibility karya Jane Austen.

Elinor Dashwood adalah anak perempuan tertua dari 3 bersaudara perempuan keluarga Dashwood. Sebenarnya ada lagi kakak tiri laki-lakinya, tapi cenderung tidak dekat karena beda ibu. Saya merasa senasib dengannya karena saya juga adalah anak tertua dari 3 bersaudara perempuan. Ayah Elinor (Mr. Dashwood) sudah meninggal, begitu juga dengan bapak saya. Kondisi keluarga yang nyaris sama dengan elinor, tinggal dengan seorang ibu dan 2 orang adiknya.

Sampai di situ mungkin persamaan saya dengan Elinor, tapi dari hal tersebut saya jadi belajar menyikapi hidup dari kebijaksanaan Elinor. Tentang bagaimana menjadi anak perempuan tertua yang mau tidak mau harus mengambil alih sebagian tanggung jawab memperhatikan keluarganya. Setelah Ayahnya meninggal, bukannya Elinor tidak sedih, tapi dia berusaha “menyelesaikan” semua perasaan itu secepat mungkin agar stabilitas keluarganya bisa kembali seperti sedia kala. Hidup harus terus berlanjut, yang sudah pergi cukup didoakan saja, tidak perlu diratapi.

Untuk urusan kisah cinta, Elinor happily ever after (seperti semua ending novel Jane Austen yang lain) bersama Edward Ferrars. Saya tidak berani berbicara banyak tentang kemiripan dengan Elinor dalam hal kisah cinta, karena memang “bab kisah cinta” itu belum dimulai dalam hidup saya. Belum ada tokoh Edward Ferrars yg muncul dalam novel hidup saya. Tapi pastinya, siapapun “dia” nanti perjuangan tidak akan berakhir setelah menemukan si Edward Ferrars, karena there is no happily ever after, kecuali di surgaNya yang abadi nanti, amin.

Edward Ferrars

He was not handsome, and his manners required intimacy to make them pleasing. He was too diffident to do justice to himself; but when his natural shyness was overcome, his behaviour gave every indication of an open, affectionate heart.

(about Edward Ferrars, Sense and Sensibility)

Pulang ke Kotamu….

lamaaaaaa sekali rasanya tidak menulis di sini, sejak tulisan tentang pride and prejudice….
semuanya sudah banyak berbeda.. terutama rutinitasku di pagi hari…
kalau kemarin-kemarin mengambil rute KiniJaya-BLK-majapahit-Palebon-singa utara-SD Juara Semarang
kini rute itu berubah menjadi Annida-Jalan Kaliurang-UGM-sagan-bethesda-lempuyangan-gayam-SD Juara Yogyakarta…
endingnya masih sama SD Juara…. hanya berbeda kota…
mungkin inilah sebenar-benarnya menghayati lagunya KLA Project.. Pulang ke Kotamu… ada setangkup haru dalam rindu… halaaaah….

Pride and Prejudice

Mengenalnya pertama kali justru bukan dari membaca bukunya, namun dengan melihat filmnya. Berawal dari adek saya, neni, yang membawa pulang film ini ke rumah. Sampai sekian lama film ini tidak menarik perhatian saya saat membongkar folder “movies” di laptopnya, sepertinya ceritany aga membosankan. Namun saat mentok semua film di foldernya sudah saya tonton, film ini akhirnya menjadi pilihan terakhir saya.
Awalnya agak garing dan tidak mudeng dengan alur ceritanya, tapi diikuti saja. Dan sepertinya memang tidak terlalu membosankan menonton film ini. Apalagi dengan matthew MacFadyen memerankan tokoh cool Mr. Darcy (huaaa… melting…..). Kebiasaan jelek cewek nih, nonton film atau nonton bola bukan karena mainnya bagus, tapi karena yang main ganteng… (dasar!!)

ini poster film-nya

Film ini menurut saya sangat “bersih”, tidak perlu ada skip di adegan-adegan tertentu. Kisah cinta di sini divisualisasikan dalam bentuk se-elegan mungkin. Kostumnya pun demikian, semua kostum perempuan pasti berupa gaun panjang, dengan lengan panjang, atau lengan pendek dengan ditambah sarung tangan panjang, kadang-kadang ditambah aksesoris berupa topi yang menutup kepala. Ibaratnya, tingal dijilbabin aja udah menutup aurat lah.. hehehe…..
Selesai menonton film ini saya ngobrol dengan neni, dari situ saya tahu bahwa film ini diangkat dari novel kuno karya Jane Austen yang dibuat pada tahun 1800-an. Yang bahasa aslinya adalah british English kuno yang kadang beberapa vocabulary-nya susah dipahami. Neni punya versi PDFnya, tapi katanya gak terlalu mudeng dengan bahasanya. Yah, sejauh ini cukup dulu minat saya terhadap novel ini. Hingga kemudian secara tak sengaja saya menemukan novel terjemahannya di took buku.
Saat itu saya sedang iseng ke Toga Mas Semarang. Langsung menuju bagian new release, lalu ke best seller, epos, lalu akhirnya sampailah saya di bagian “karya fenomenal”. Novel ini berada di antara tumpukan berjilid-jilid Harry Potter, gone with the wind, Scarlett, seri twilight dll. Hanya tinggal satu. Saya lihat harganya, wow… untuk ukuran novel setebal itu harganya murah . Belum diskon pula. Saya lalu mengambilnya dan membawa ke kasir.

ini cover bukunya

Sebenarnya menurut banyak orang, dan saya sendiri, ceritanya datar-datar saja. Cerita tentang kisah cinta pada umumnya. Minim konflik, penyelesaian datar dan aktivitas tokoh-tokohnya benar-benar monoton menurut saya. Namun kenapa jadi segitunya fenomenal, sampai dikatakan “selama lebih dari 150 tahun, Pride and Prejudice tetap menjadi salah satu novel Inggris terpopuler”. Bahkan di sampul depannya tercetak sebuah keterangan judul “sakah satu roman terpopuler sepanjang masa”.

Tapi kemudian saya bisa paham sepemahaman saya, bahwa mungkin masyarakat modern kini merindukan kembali suaasana-suasana pada zaman itu, sekitar abad 19. Tidak hanya merindukan situasi secara fisik, berupa bangunan, model pakaian dan rumah-rumah bak istana yang ada di sana. Namun juga merindukan suasana tradisi yang mungkin saja dibilang kolot, penuh pengekangan, batasan-batasan dan aturan yang kadang untuk masa sekarang nampak mengada-ada. Namun justru karena batasan-batasan itulah, orang mudah bahagia dengan sesuatu hal kecil saja, orang lebih sensitive terhadap hal-hal yang  menyenangkan, yang itu tidak akan dirasakan dalam kehidupan yang mengagungkan kebebasan, liberalism dan hedonism, di mana orang hanya melakukan apa-apa yang mereka senangi tanpa peduli dengan aturan.

Lebih khusus bagi para pekerja zaman  sekarang, kisah ini banyak memberikan gambaran mengenai kunjungan-kunjungan ke daerah lain dalam waktu yang lama, minimal hitungan pekan, orang dapat tinggal di tempat lain di luar wilayahnya untuk sekedar menghabiskan musim panas di tempat bunga-bunga indah bermekaran. Hal ini tentu menjadi hal yang mustahil bagi para pekerja yang terikat dengan jam kerja. Bila libur atau cuti pun jarang lebih dari 2 pekan.

Ah… saya terlalu banyak bicara, jangan anggap ini sebagai sebuah resensi film atau buku. Saya lebih suka menyebutnya inspirasi selepas membaca buku ini. Tidak saya rekomendasikan buku ini pada anda yang sibuk, karena memang tidak banyak pengetahuan yang akan anda dapat dari buku ini, ia akan membuang waktu anda yang berharga. namun jika anda ingin hiburan dalam waktu luang anda, maka saya rasa buku ini bisa menjadi alternatif “hiburan intelektual” bagi anda.

-gemahsari168, 14 september 2011-

 

BrideTalk

sekedar warming up karena sudah lama sekali saya tidak nulis di blog ini.
foto ini diambil waktu kondangan ke nikahannya pak ahmad, household-nya SD Juara semarang. mempersunting mbak zakiyatul fikriyah atau akrab disebut “dek zaki” dari grobogan jawa tengah.
foto yang diambil dengan penuh perjuangan setelah melewat sekitar 3 km jalan yang rusak parah, mirip kali asat bgt. tp alhamdulillah terbayar setelah sampai di lokasi walimatul ‘ursy.

mb tina-bu ulma-bu diah-p'ahmad-mbak zaki-bu rini-bu asri-nia-mb nitis

pokoke, barakallahulaka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair…..

test

SD JUARA SEMARANG on KOMPAS.com

mei

selalu ada alasan untuk bangkit….

Life Never Ask You What You Want

Ahad sore ini seperti  biasa, saya menunggu bus Patas Jogja-Semarang langganan saya, menunggu di sebuah agen perjalanan. Namun ada yang menarik sore ini, di tengah kebosanan saya menunggu bus yang terlambat karena macet di mana-mana, saya disuguhkan sebuah drama realita keluarga, yang sungguh sangat sederhana, jujur namun begitu membukakan mata saya tentang sebuah kemungkinan cara hidup yang tidak normal, namun juga tidak salah.

Dimulai dari kedatangan 4 orang yang nampaknya adalah sebuah keluarga, ada ayah, ibu dan dua orang anak yang berusia kira-kira 10 dan 5 tahun. Hanya sang ayah yang terlihat rapi, sedang sang ibu dan dua anaknya memakai pakaian rumahan biasa saja, tidak nampak ketiganya akan melakukan perjalanan jauh. Dan benar saja, dari percakapan mereka saya bisa menyimpulkan bahwa sang ayah adalah tipe Ayah PJKA, Pulang Jum’at Kembali Ahad.

Hampir 20 menit mereka menunggu bus, dan saat bus yang ditunggu sang ayah datang, maka adegan mengharukan tanpa rekayasa itu pun terjadi, sang ayah menciumi kedua buah hatinya seolah tidak ingin perpisahan itu terjadi, dan saat giliran pamit pada istrinya, wanita itu mencium tangannya lalu memeluknya erat. Seandainya saya diberi kesempatan untuk memberikan backsound untuk adegan ini, maka saya akan menyanyikan OST Armagedon ini :

So kiss me and smile for me..

Tell me that you’ll wait for me..

Hold me like you’ll never let me go..

Cause I’m living on a jetplane..

Don’t know when I’ll be back again..

Oh babe… I hate to go…

Ah… tidak… saya hanya menyenandungkan lagu itu dalam hati sambil agak berkaca-kaca. Inilah kenyataan hidup, satu pelajaran hidup saya dapatkan sore ini. Tentang sebuah fenomena rumah tangga jarak jauh, Long Distance Relationship kalo bahasa kerennya anak jaman sekarang. setiap keluarga pasti menginginkan setiap anggotanya berkumpul, tak ada satupun yang terpisah. Menginginkan keluarga yang sempurna, ayah berangkat ke kantor setiap pagi dan pulang di sore harinya.

But life never ask you what you want, hidup tidak pernah menanyaimu tentang apa yang kamu inginkan. Kenyataannya adalah bahwa kantor si ayah ada di luar kota, luar, provinsi atau bahkan luar pulau. Ayah hanya akan pulang di hari jum’at malam lalu pergi bekerja lagi di hari ahad dan baru jum’at pekan depan atau bulan depan akan pulang lagi, sementara untuk pindah rumah mengikuti tugas ayah juga tidak mungkin, karena mungkin si ibu masih terikat kontrak sekian bulan atau sekian tahun di tempatnya bekerja.

Maka, jika jalan ini memang yang harus ditempuh, maka jalani saja. Lalu lihatlah ruang tunggu bandara, stasiun, agen-agen perjalanan akan menjelma menjadi penuh bunga bagi anak-anak itu, bunga harapan menanti ayah mereka keluar dari kereta, bus atau pesawat di hari Jum’at. Juga bunga harapan agar ayah mereka pulang lagi di pekan depan meskipun mereka baru saja melepas ayahnya pergi di hari Ahad sore itu.

Inilah wajah kehidupan yang lain, yang sebelumnya tidak terpikirkan ada oleh saya, yang Salim A. Fillah menggambarkannya dengan kalimat “saat amanah menggariskan jarak”. Ternyata hal tersebut banyak terjadi di sekitar kita. Dan nampaknya mereka menjalani dengan baik-baik saja, menikmati ritme dan bersiap untuk kejutan dariNya.

How about you?

Semarang, 24 April 2011

-hampir tengah malam-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.